Cepat, Lugas dan Berimbang

Puber Kedua, Fase Emak-Emak Masuk ke Medsos jadi Lebih Berisik dari Remaja

Puber Kedua
Ilustrasi Puber Kedua

1. Lebih Aktif dari Anak Sendiri Upload tiap jam. Story panjang. Live tanpa jadwal. Komentar di mana-mana. Medsos jadi ruang utama, bukan sekadar hiburan.

2. Perubahan Gaya yang Mendadak Dari sederhana jadi ekstra. Dari “yang penting rapi” jadi “yang penting dilihat”. Filter berlapis, angle terbaik, dan caption penuh kode.

3. Haus Perhatian (Bukan Cinta Murahan). Perhatian di sini bukan selalu soal hubungan, tapi soal dianggap menarik, hidup, dan bernilai.

4. Mulai Penasaran dengan Lawan Jenis DM dibalas cepat. Komentar laki-laki jadi sorotan. Bukan karena ingin macam-macam, tapi karena lama tak merasa di-notice sebagai perempuan, bukan hanya ibu.

5. Emosi Lebih Terbuka di Publik Sedikit-sedikit curhat. Sedikit-sedikit sindir. Sedikit-sedikit drama. Medsos jadi ruang pelampiasan yang dulu tak pernah ada.

Sisi yang Jarang Dipahami

Banyak orang menertawakan. Sebagian mencibir. Sedikit yang bertanya: “Apa yang sebenarnya mereka cari?”

Puber kedua sering muncul karena kekosongan peran. Saat anak tak lagi bergantung. Saat pasangan tak lagi romantis. Saat hidup terasa monoton. Media sosial tidak menciptakan masalah-ia hanya membuka pintu ekspresi.

Antara Ekspresi dan Kesadaran

Menjadi berani tampil bukan dosa. Ingin merasa menarik bukan aib. Ingin diperhatikan bukan kesalahan. Yang penting adalah kesadaran.

Berani tampil tanpa kehilangan batas.

Aktif di medsos tanpa meninggalkan tanggung jawab. Menikmati validasi tanpa menjadikannya sumber harga diri. Karena puber kedua seharusnya jadi fase menemukan diri kembali, bukan kehilangan arah.

Fenomena puber kedua emak-emak di media sosial bukan untuk ditertawakan, tapi dipahami. la adalah cermin dari kebutuhan manusia yang paling dasar: diakui, dilihat, dan dirasakan keberadaannya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN