Setelah anak besar. Setelah rutinitas menggerus jati diri. Setelah tubuh berubah, perhatian berkurang, dan pujian makin jarang. Media sosial datang seperti oase: murah, cepat, dan penuh respons.
Suara yang lebih tinggi saat berbicara atau menulis komentar bukan hanya karena ingin terdengar, melainkan juga karena mereka mencari respons dari komunitas yang mereka ikuti.
Yang paling mencolok adalah Like menjadi validasi. Komentar jadi pengakuan. DM terasa seperti perhatian yang lama hilang.
Saat sebuah postingan tentang keluhan mendapatkan banyak suka atau komentar dukungan, emak-emak tersebut merasa bahwa perasaannya sah dan tindakannya benar – bahkan jika secara logika itu mungkin tidak tepat.
Misalnya, mereka bisa saja berbagi informasi kesehatan yang tidak terbukti kebenarannya, namun karena banyak yang menyukai dan mengomentari bahwa “bermanfaat”, mereka jadi lebih yakin dan bahkan berani menyebarkannya lebih luas. Atau saat mereka mengkritik kebijakan sekolah anak atau kebiasaan keluarga, dukungan dari teman-teman di media sosial membuat mereka merasa berhak untuk terus mengangkat suaranya, terkadang hingga tingkat yang dianggap berlebihan oleh orang lain.
Namun sisi “lebih berani” tidak selalu negatif. Banyak emak-emak yang setelah mendapatkan dukungan dari media sosial justru berani mengambil langkah konstruktif – mulai dari mencoba bisnis rumahan baru yang dulu hanya jadi impian, berani menyampaikan pendapat tentang isu sosial yang mereka pedulikan, hingga memutuskan untuk mengikuti kelas pelatihan untuk meningkatkan keterampilan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







