P. Kons Beo, SVD
Dalam kisah Injil (Markus 10:35-45), ambisi itu tak bisa ditutup-tutup. Iya, ambisi untuk dapatkan posisi kunci (Kekuasaan) pada saat Yesus datang nanti dalam kemuliaanNya. Yakobus dan Yohanes, kedua bersaudara itu, dengan percaya diri bersuara. Ini demi dapatkan tempat di sebelah kanan dan sebelah kiri kelak.
Permintaan yang nampak haus posisi itu bangkitkan kemarahan sepuluh murid yang lain. Apakah sepuluh murid yang lain itu telah paham betul apa arti sesungguhnya mengikuti Yesus? Atau kah mereka merasa tersaingi demi posisi (kekuasaan) itu, namun masih ‘rem-rem diri’ untuk bersuara terus terang pada Yesus? Entahlah.
Bagaimanapun, kiranya ambisi demi posisi itu nyata ada di hati semua murid. Dan jadinya? Muncullah gontok-gontokan atau gesek-gesekan di antara para murid itu. Dan kata-kata Yesus, pada akhirnya, mesti ditangkap sebagai norma paling pasti: apa arti posisi kiri – kanan itu:
“Yang ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayananmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaknya ia menjadi hamba untuk semuanya” (Markus 10:23-24).
Kata-kata Yesus itu jelas memangkas tegas arti tentang posisi utama seperti yang dunia kenal. Itulah Pemerintah Bangsa-Bangsa yang akrab dengan mainkan tangan besi. Dan jalankan kuasanya dengan keras atas rakyat. Sementara Yesus tegaskan apa artinya pemimpin dan kuasa dalam artian melayani (Markus 10:45).
Tempat, posisi, jabatan, pangkat, dan kekuasaan, siapakah yang tak mengimpikan? Terhitung sebagai pembesar, pejabat, petinggi atau bahkan penguasa bisa menjadi idaman atau cita-cita yang mesti dikejar menggebu-gebu dan sejadi-jadinya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






