Namun, sepantasnya orang tak miliki ambisi liar atau diambisikan untuk menjadi pemimpin atau penguasa. Kata orang, selidikilah saja rekam jejaknya. Telitilah dengan saksama karakter kepribadiannya. Dan tentu saja, lihatlah dengan serius kesaksian hidupnya yang sepantasnya cemerlang dan unggul. Walau tak seputih malaekat.
Namun, syarat-syarat serius yang minimal ini, sayangnya, dalam daur ulang politis, bisa dikaroseri seolah-olah mempesona dan mengandung umpan manis bagi publik (rakyat).
Yang minusnya tebal rekam jejak, bisa dibuat jadi bak pahlawan pro rakyat atau pun sebagai pejuang kemanusiaan. Namanya saja strategi politik. Segala cara dan kiat-kiat apa saja bisa ‘diamini dan diwajarkan.’ Sebab yang terpenting adalah bisa meraih posisi. Dan terlebih berhasil menggenggam kuasa.
Di hari-hari ini Indonesia lagi membidik calon untuk jadi RI 01 dan 02. Satu momentum politik penuh intrik berdaya saing penuh sengit. Kata-kata dan gesture dari dan tentang Ganjar Pranowo – Anis Baswedan – Prabowo Subianto sudah diforma dan ditafsir dalam konteks politik. Baik dari yang Pro, maupun dari yang Kontra.
Entah apa yang tengah dan hendak diandalkan Ganjar Pranowo nanti? Apa-apa saja prestasinya saat 10 tahun jadi orang nomor 1 di Jawa Tengah sana? Atau kah Ganjar hanya berharap dan berlindung pada ‘kejayaan PDIP dan nama besar serta berpengaruh dari Jokowi? Tampaknya masih sepih dan samar.
Beruntungkah Anis Baswedan. JIS yang berdaya pikat itu, setidaknya punya aura politis demi lambungkan namanya. Namun, apakah semudah itu? Jika JIS jadi venue Piala Dunia U-17, apakah itu sudah cukup untuk membongkar ingat aneka soal di DKI semisal segala kelebihan bayar, Rumah DP 0, naturalisasi sungai dan banjir, sumur resapan, dan Formula E itu?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






