Cepat, Lugas dan Berimbang

Yakobus dan Yohanes: Tertekan di Balik Ambisi Kekuasaan?

Prabowo sungguh beruntung. Gerindra yang sudah kuat, menjadi lebih kuat oleh oleh kehadiran PKB. Dan terakhir, Prabowo dan Gerindra-nya, semakin jadi gemuk dan tebal oleh kedatangan Golkar dan PAN.

Kabarnya tak hanya itu, aksi penuh gerilya sudah dimainkan tim Prabowo untuk susup sana, susup sini. Jokowi didekati, Gibran ingin dirangkul. PSI divisitasi penuh simpatik. Hingga, katanya, “Logika Ade Armando kini jadi santun. Tak menukik tajam lagi ke Prabowo.”

Tak ada yang salah dari akrobatisasi politik walau terkesan pula penuh overlapping dari ahli strategi militer ini. Jika di 2017 itu, Anis Baswedan bisa ditolong ‘naik ke DKI 01’, maka tidak bisa kah Prabowo menolong ambisinya sendiri?’

Belakangan ini, nyatanya Prabowo lagi panik tentang dirinya sendiri. Kekuasaan adalah isi mimpi wajib di keseharian tidurnya. Koalisi gemuk sudah ia dapatkan. Lobi sana sini sudah diusahakan. Pencitraan penuh perhitungan sudah dikobarkan. Namun, apalagi yang masih kurang?

Yang masih kurang itu adalah kuasa. iya, kekuasaan. Dan Prabowo tahu persis, bahwa kuasa itu ada pada tangan (suara) rakyat. Untuk jadi penguasa (yang berkuasa) itu vox populi adalah conditio sine qua non, bahwa suara dan kepercayaan rakyat adalah syarat mutlak. Tak bisa tidak!

Di situlah Prabowo tak sanggup tutup-tutupi ambisi minta kuasa. Atau minta untuk berkuasa. Prabowo minta ijin rakyat untuk berkuasa. Mungkin kah karena Prabowo sudah belajar dari pengalaman bahwa demo-demo jalanan atau seruan dan aksi People Power bukanlah jalan cantik konstitusional untuk ‘cepat berkuasa’ demi simpatik publik yang kecewa dan marah pada regim Jokowi.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN