Saat Tuhan ditanya, “Guru, di manakah Engkau tinggal?” Dan Tuhan pun menjawab, “Mari dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1:38-39). Guru dan Tuhan memang tak punya satu alamat tempat yang pasti. Sebab Ia sendiri ‘tak punya tempat untuk letakan kepalaNya. Yesus tak semujur serigala yang punya liang atau burung yang miliki sarang’ (cf Mat 8:20).
“Alamat” Yesus adalah kelompok manusia yang buta, timpang, tuli, lumpuh, yang dikuasai roh-roh jahat. “Alamat” Yesus adalah kumpulan orang yang didera berbagai penyakit, yang miskin, lapar dan haus. Dan sungguh Yesus dapat ditemukan ‘ada dan tinggal di alamatNya itu.’
“Alamat” Yesus di zaman kini ada dalam situasi hidup manusia dan dunia yang dilanda tekanan hidup, ketidakadilan, berbagai ragam kekerasan, sikap intoleran hingga kerusakan alam dan lingkungan. “Alamat dan tempat tinggal Yesus” adalah dunia yang terluka.
Ke “alamat” itulah, iya di dunia yang terluka itulah, kita – para murid Yesus – Gereja dipanggil untuk ‘berdiam dan tunjukan citra misioner yang bermakna solider.’
Amat disayangkan, sekiranya Gereja, kita-kita ini tak dijumpai di ‘dunia yang terluka itu.’ Ini semua karena kita tetap keasyikan dalam ciptakan zona-zona nyaman. Pun karena kita tetap bersibukria hanya pada interese dan kepentingan diri sendiri serta kelompok.
Mari kita kembali lagi pada sentakan kata-kata Nouwen, “Kebanyakan dari kita memiliki alamat, tapi tidak ditemukan di sana……”
Kita memang mesti pulang ke ‘alamat kita dan hendak kembali berdiam di situ.’ Itu mungkin juga seperti ‘masuk kembali ke citra diri sendiri..’ Dan untuk semuanya kita tetap miliki harapan……..
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





