Mengeluh: Benang kusut di hati
Si Bijak nasihati para muridnya yang bertanya tentang apa resep hidup sehat dan sewajarnya. “Berhentilah mengeluh!,” jawab si bijak. Mengeluh adalah ungkapan rasa hati tak pernah puas, tak pernah cukup. Kita keluhkan yang tak wajar tentang sesama. Sebabnya?
Iya, dari sesama itu, yang selalu dan tetap saja kita bidik adalah segala yang kita ‘anggap kurang.’ Rasa penuh keluhan semakin menebal, saat kita terlanjur takhtakan diri sendiri di level superior di segala lini. Dan kitalah penguasa mutlak kebenaran dan kesalehan. Ini baru tentang keluhan mengenai sesama.
Tidakkah ada pula keluhan tentang ‘kurang ini dan kurang itu?’ Hati yang gelisah pasti memotong jalan menuju rasa syukur. Keinginan untuk serba ‘lengkap dan tersedia’ acap kali terlalu sensitif patologis akan apa yang dianggap kurang.
Gelisah menyergap
Mengenai rasa hati penuh kuatir akan harta dunia dan ‘cinta uang serta memburunya’ (cf 1Tim 6:10), Yesus ingatkan para murid dan para pendengarNYa untuk tak terjebak dalam ketamakan dan kegelisahan (cf Matius 6:25; Lukas 12:15). Maka?
Selayaknya kita kembali ke rasa penuh syukur dan terimakasih. Sekecil dan sesederhana apapun apa yang dialami, hati memang mesti terlatih untuk ungkapkan ‘alhamdulilah.’ Dari sesama, tak usahlah terlalu banyak ‘memaksa, mendesak, menuntut’ agar sejalan dan serah dengan kemauan hati kita yang terkadang ada ‘eror dan tidak masuk akalnya’ pula.
Akhirnya…
Maka, apa yang kita alami, apa yang kita miliki, apa yang jadi bakat dan kemampuan, semuanya itu “syukuri apa yang ada…..” Bahkan atas segala ketidakhebatan, kekurangan serta keterbatasan, kita ucapkan ‘rasa syukur’ agar kita dapat belajar rendah hati. Dan, dapat belajar dari keutamaan yang dimiliki orang lain.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




