Kita dapatkan apa yang tak pernah kita duga. Kita pun menerima sesuatu yang nampak sebagai privilese di luar kepantasan dan kelayakan kita di mata dunia. Hidup bagi kita bisa jadi terlihat bagai parade dari berbagai ketidakmungkinan namun sesungguhnya nyata.
Tetapi kita tentu bukanlah penentu dan pemilik berbagai kepastian nan mutlak. Kita tetap menjadi ‘manusia penuh keheranan’ yang dibayangi kejutan yang sungguh tak diduga’ (cf Lukas 1:29). Kita tahu akan segala irama dan kisah hidup kita yang bergelombang dan sering tak berarah pula. Yang tetap dipagar tanya, “Siapakah aku ini dan mungkinkah hal itu bakal terjadi?” (Lukas 1:34).
Tetap berarti dan berharga di mata Tuhan
Namun, di atas segalanya, bukankah kita tetap menangkap ‘Suara Sang Kesunyian’ yang meneguhkan, “engkau tetap berharga di mataKu?” (cf Yeremia 43:4). Kesangsian dan kecurigaan dunia diteduhkan oleh Kasih Agung yang tak bersyarat (cf Kisah Para Rasul 9:13-15).
Tentu, semuanya tak berarti bahwa kita pasti selalu nikmati alam dan situasi serba teduh. Tidak! Toh dalam hidup, siapapun kita pasti tak luput dari situasi ‘tindasan, habis akal, teraniaya, dihempaskan’ dalam berbagai caranya. Namun, segala suasana suram itu tak bermuara pada ‘alam keterjepitan, keputus-asaan, sebatang kara, kebinasaan’ (cf 2Korintus 4:8-9).
Sebab itulah, mari kita perlipatgandakan rasa syukur dan terima kasih. Rasa syukur menuntun kita pada relasi yang sehat dan ceriah dengan sesama. Dalam rasa syukur penuh ketulusan ditampakkan ‘martabat manusia kita yang manusiawi.’ Kita yang rapuh dan minus diteguhkan oleh kemampuan dan kelebihan sesama yang tak kita punyai. Pun di garis hidup sebaliknya, saat kita, setidaknya, bisa menjadi jawaban dari harapan sesama. Namun, apakah semua rasa dan irama kehidupan berjalan sekian indah?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




