Siswa diarahkan untuk segera merunduk dan berlindung di bawah meja yang kokoh, melindungi area kepala serta leher, dan berpegangan pada kaki meja hingga guncangan mereda.
Antusiasme dan Respons Siswa
Penyampaian materi berlangsung dua arah. Paulus sesekali melontarkan pertanyaan sederhana untuk melatih daya tanggap siswa sekaligus memastikan materi terpahami dengan baik.
Antusiasme siswa terlihat beragam. Sebagian siswa secara spontan mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan, sementara sebagian lainnya terlihat tekun menyimak sebelum ikut berpartisipasi. Suasana semakin semarak ketika para siswa menjawab pertanyaan secara serentak yang diselingi gelak tawa dan tepuk tangan.
Beberapa siswa turut menceritakan pengalaman mereka saat merasakan guncangan gempa sebelumnya. Pengalaman tersebut kemudian dibahas bersama sebagai bahan pembelajaran untuk memperkuat pemahaman mengenai tindakan penyelamatan yang tepat.
Saat praktik perlindungan diri, para siswa memperagakan cara melindungi kepala dan leher menggunakan kedua tangan. Gerakan tersebut dilakukan secara bersama-sama sehingga proses belajar terasa menyenangkan layaknya sebuah permainan.
Simulasi Gempa: Dari Pengetahuan Menjadi Aksi
Sebagai puncak kegiatan, para siswa mengikuti simulasi tanggap darurat gempa bumi yang dirancang melalui pendekatan permainan edukatif.
Simulasi dimulai saat pendamping memberikan aba-aba penanda terjadinya gempa:
“Gempa datang! Jadi Tupai Siaga!”
Mendengar aba-aba tersebut, para siswa secara refleks melakukan tindakan perlindungan dalam waktu sekitar tiga detik. Mereka langsung merunduk, masuk ke bawah meja yang kokoh, memegang kaki meja, serta melindungi kepala dan leher.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











