Sejarah Iduladha dan Amalan yang Bisa Dilakukan

infopertama.comHari Raya Iduladha dilaksanakan oleh umat Islam tiap tahunnya pada tanggal 10 Zulhijah menurut kalender Hijriah. Iduladha kerap dikenal Hari Raya Kurban, sebab pada hari yang sama muslim melaksanakan ibadah kurban bagi yang mampu.

Selain itu, Iduladha juga sering disebut dengan Lebaran Haji karena bertepatan dengan puncak pelaksanan ibadah haji di Mekah. Bagi muslim yang belum mampu mengerjakan ibadah haji, berkurban menjadi salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah Swt. saat Hari Raya Iduladha. 

Tahukah kamu, di balik perayaan Iduladha, terdapat sejarah yang menarik untuk diketahui. Asal-usul ibadah kurban berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim a.s yang diperintahkan oleh Allah Swt. untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail a.s.

Untuk lebih jelasnya, simak sejarah Iduladha berikut ini.

Sejarah Iduladha

Melansir CNN Indonesia, sejarah Iduladha diabadikan dalam Al-Qur’an surah As-Saffat ayat 102-107. Melalui mimpi, Allah Swt. memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. untuk menyembelih putra kesayangannya, yaitu Ismail, sebagai kurban di sisi-Nya. Dengan hati sedih, Nabi Ibrahim a.s. lalu menjelaskan mimpi tersebut kepada Ismail dan meminta pendapat putranya mengenai titah tersebut.

Ismail, yang saat itu masih berusia 7 tahun, memberikan jawaban bijak dengan mengizinkan sang ayah menyembelih dirinya sesuai perintah Allah Swt.

Hal ini tertulis dalam Al-Qur’an surah As-Saffat ayat 102, yang artinya:
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’”

Saat keduanya telah berserah kepada Allah Swt., Nabi Ibrahim a.s. bersiap melaksanakan perintah-Nya itu. Ia membaringkan Ismail dengan bagian wajah yang menghadap ke tanah agar dirinya tak melihat wajah sang putra. Ketika Nabi Ibrahim mulai menghunuskan pisaunya untuk menyembelih Ismail, Allah Swt. segera menebus Ismail dengan seekor domba besar.

Peristiwa bersejarah ini kemudian diperingati sebagai Hari Raya Iduladha setiap tahunnya oleh umat Muslim di dunia dengan menyembelih hewan kurban, seperti domba, kambing, sapi, kerbau hingga unta. Daging hewan kurban ini kemudian dibagikan kepada keluarga, fakir miskin, tetangga, kerabat, serta masyarakat umum yang membutuhkan.

Selain berkurban, Iduladha juga merupakan puncak dari ibadah haji, yang merupakan rukun Islam kelima. Namun, untuk ibadah haji ini wajib dilakukan bagi yang mampu.

Iduladha mengajarkan nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, kesabaran, ketaatan, dan nilai berbagi sekaligus, yang berasal dari perintah berkurban dan melaksanakan ibadah haji.

Amalan saat Iduladha

Terdapat amalan-amalan sunah yang bisa dikerjakan umat Islam dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha. Berikut di antaranya, dikutip dari NU Online.

1. Puasa Zulhijah

Puasa sunah Zulhijah dilaksanakan pada tanggal 1-9 Zulhijah. Khusus tanggal 8 dinamakan puasa Tarwiyah dan tanggal 9 dinamakan puasa Arafah. Berpuasa di bulan Zulhijah memiliki keutamaan tersendiri, sebagaimana sabda Rasulullah saw., yang artinya:

“Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan salat malam setara dengan salat pada malam Lailatulqadar.” (HR At-Tirmidzi).

2. Puasa Arafah

Puasa Arafah dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah, bertepatan dengan umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji sedang wukuf di Padang Arafah. Orang yang menjalankan puasa Arafah akan mendapat keistimewaan sesuai sabda Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan Abi Qatadah al-Anshari,

“Puasa Arafah itu dapat menghapuskan dosa (selama dua tahun), yakni satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Adapun puasa ‘Asyura (10 Muharram) dapat menghapuskan dosa selama setahun yang telah lalu.” (HR Muslim).

3. Puasa Tarwiyah

Puasa Tarwiyah dikerjakan saat hari Tarwiyah pada 8 Zulhijah, yaitu ketika jemaah haji menyiapkan perbekalan untuk wukuf di Arafah. Dalil puasa Tarwiyah mengacu pada hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Anas bin Malik,

”Siapa saja yang berpuasa di hari Tarwiyah (8 Zulhijah), maka Allah akan memberikannya pahala seperti pahalanya kesabaran Nabi Ayub a.s. atas penyakit yang menimpanya.”

4. Mengumandangkan Takbir

Menghidupkan malam Iduladha dengan mengumandangkan takbir di masjid atau rumah dapat dilakukan mulai dari terbenamnya matahari, sampai imam naik mimbar untuk khutbah Iduladha.

5. Mandi, Memakai Wewangian, dan Mengenakan Pakaian Bagus

Mandi sebelum berangkat untuk salat Id boleh dilakukan mulai pertengahan malam, sebelum waktu subuh, dan yang lebih utama adalah sesudah waktu subuh. Selain itu, dianjurkan juga memakai wewangian dan mengenakan pakaian terbaik. Tujuannya adalah agar muslim berada di kondisi bersih, segar, dan wangi saat hendak salat berjamaah.

6. Pergi ke Masjid dengan Berjalan Kaki

Nabi Muhammad saw. terbiasa berjalan kaki ketika berangkat menuju ke masjid atau tempat salat Id, kemudian mengambil jalur jalan pergi dan pulang yang berbeda. Hal ini dilakukan agar beliau bisa saling bertegur sapa dan bersalam-salaman sesama kaum muslim.

7. Tidak Makan sebelum Salat Id

Berbeda  dengan salat Idulfitri yang mengharuskan muslim makan terlebih dulu sebelum salat, sebaliknya ketika Iduladha muslim disunahkan tidak makan sebelum salat Id dan baru makan sepulang salat Id bersama keluarga. Diriwayatkan dari sahabat nabi Buraidah ra.,
“Nabi saw. tidak keluar pada Hari Raya Idulfitri sampai beliau makan, dan pada Hari Raya Iduladha hingga beliau kembali ke rumah.”

8. Melaksanakan Salat Iduladha

Salat Iduladha dikerjakan sebanyak dua rakaat pada waktu setelah terbitnya matahari sampai sebelum masuk waktu Zuhur. Salat sunah Iduladha juga selalu dikerjakan dan hampir tak pernah dilewatkan oleh Rasulullah saw.

9. Berkurban

Menyembelih hewan kurban merupakan amalan utama pada Hari Raya Iduladha 10 Zulhijah. Meski begitu, ibadah ini hukumnya sunah muakadah, atau yang sangat dianjurkan. Mengutip detikhikmah, Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Kautsar ayat 2, yang artinya:

“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)!” ***

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV