Cepat, Lugas dan Berimbang

Sebenarnya Kita Juga Mesti Sibuk dengan Diri Kita Sendiri

Maka, sejatinya, agar tak keenakan atau tepatnya keasyikan dalam kerepotan mengenai atau tentang perkara sesama (orang lain), siapapun seyogyanya merasa terpanggil untuk ‘pulang kepada diri sendiri.’ ‘Pulang kepada diri sendiri’ bukanlah satu gerak kembali untuk membangun ‘kerajaan diri yang egosentrik dan sempit.’ Bukan….

Tetapi sebaliknya….

“Sibuk dengan diri sendiri” itu adalah proses gerakan diri internal yang sehat. Di situ kita lepaskan teropong diri yang palsu, yang telah dipakai untuk melihat dan mempertahankan diri secara salah. Di situ pun kita belajar untuk batalkan, misalnya, sisi tilik sesama dalam eforia penuh puja-puji, yang sebenarnya tak layak kita dapati.

“Sibuk dengan diri sendiri” adalah satu pertarungan untuk melihat diri melalui cermin ataupun kacamata kerendahan hati. Kita sebagaimana adanya kita adalah cita-cita mulia dari ‘sibuk atau pulang kepada diri sendiri.’ ‘Rasa bersyukur serta sanggup memeluk diri sendiri’ yang indah serentak juga tak sedap-eloknya adalah sikap penuh sportif.

Ini semua tentu bukanlah jalan yang mudah. Si bijak lukiskan, “Kita sebenarnya tak bebas seperti apa yang kita rasa.” Sebab ‘masih ada nilai-nilai palsu yang tergenggam selama kita dibesarkan; oleh sakit hati dan penolakan yang teralami di masa lalu; oleh berbagai tekanan dan rasa bersalah yang tak benar hingga gambaran tentang diri sendiri dan harapan orang lain yang tak realistis. Ini belum lagi bila mesti berbicara seputar relasi kita dengan sesama yang banyak berbelitan tali-temalinya.’

Maka itulah sebabnya…

Bahwa kita memang mesti ‘kembali dan sibuk dengan diri sendiri.’ Agar lebih banyak ‘menghasilkan buah maka ranting-ranting diri yang kering dan palsu haruslahlah dipangkas. Demi bertumbuhnya tunas-tunas diri yang baru dan segar.’

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN