Cepat, Lugas dan Berimbang

Sebenarnya Kita Juga Mesti Sibuk dengan Diri Kita Sendiri

Namun, persoalannya kiranya bukanlah pada pembedaan antar keduanya. Narasi dan aksi tetaplah menjadi pilar-pilar kemajuan. Tanpa saling menegasikan atau apalagi melenyapkan. Sebab orasi tanpa bukti nyata bisa dituduh sebagai pembodohan (publik). Sementara aksi, aksi dan terus beraksi tanpa basis tesis yang mumpungi bisa berakibat fatal pada kebobrokan yang tak orientatif.

Mari kita melaju pada tatanan spiritual…

Hal yang lebih jauh dapat disimak. Disinyalir, “Mudah untuk terlibat dalam kebutuhan dan masalah orang lain sehingga kita tidak punya waktu atau kekuatan untuk menghadapi kebutuhan kita sendiri.” Hingga masuk pada keterlibatan yang positif demi sesama, itu bisa saja teralami sebagai cara untuk tak peduli pada diri sendiri.

Siapa pun bisa keasyikan dan terkesima dalam ‘animasi aksi’ seperti dalam retorika pemberian diri demi sesama, pengorbanan, pahlawan demi sesama. Di situ kita merasa terhubung dengan sesama, dengan dunia luar. Dan kita masih sanggup ‘berkata dan berbuat’ sesuatu demi sesama. Tentu semuanya amatlah berarti.

Bagaimana pun…

“Pulang kepada diri sendiri mestilah menjadi satu jalan indah agar kemudian lebih berdaya dan berbuah.” Artinya? Bahwa apa yang terlahir dalam koridor kreativitas dan produktif, tidak secara sederhana bahkan kasar ternilai sebagai reaksi atau pembuktian terbalik dari ‘kegagalan dalam kebersamaan.’

Dalam banyak kenyataan, seorang individu dapat saja memberikan pikiran-pikiran kritis, tajam, dan sungguh mengagumkan dalam aneka refleksi yang berakar pada data dan sumber yang valid. Sayangnya pada individu itu tak (belum) tampak nyata dinamika pembaharuan atau transformasi diri yang adequat.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN