Dari perumpamaan ini, dapat dilihat bahwa pandangan kita lebih cepat tertuju pada ilalang [keburukan, kelemahan, kekurangan]. Kita tidak akan bisa tahan dengan adanya ilalang, cepat terusik dengan kesalahan dan keterbatasan orang lain. Kita lebih cepat mengadili, lebih cepat melihat kekurangan dalam diri sesama. Pandangan kita jauh berbeda dengan pandangan Allah. Mata ALLAH tertuju kepada gandum. Yang menjadi perhatian Allah adalah kehidupan, pertumbuhan dan masa depan gandum. Allah yakin bahwa gandum tidak akan mati karena adanya ilalang sebab Allah sendiri adalah jaminannya, Dialah yang menabur dan memberi kehidupan.
Sahabat SENDAL SERIBU yang terkasih dalam KRISTUS
Melalui kisah perumpamaan ini, kita dipanggil untuk melihat diri sendiri dan sesama seturut pandangan ALLAH, kacamata gandum. Tidak usah menghabiskan energi dengan memfokuskan diri pada kekurangan dan keterbatasan atau ilalang di dalam hidup kita dan sesama. Kita memang manusia yang lemah, yang penuh dengan kekurangan dan keterbatasan. Cacing ada di tanah. Lemah dan rapuh ada pada setiap kita.
Akan tetapi, semuanya itu tidak membuat kita harus menutup mata pada rahmat dan kasih ALLAH yang memberikan kelebihan dan keunggulan. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan saat ini adalah melihat sesama dan diri sendiri dengan tatapan gandum yakni sebagai pribadi yang Allah Cintai. ALLAH tahu kita orang berdosa, yang sering kali jatuh dalam dosa dan kesalahan yang sama tetapi DIA mengasihi kita apa adanya, tanpa terkecuali. Kita adalah PENDOSA yang dikasihi oleh ALLAH.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







