Lebih lanjut, Bupati Kanisius menekankan bahwa ketergantungan Lembata terhadap pembangkit diesel berbahan bakar solar harus segera diantisipasi.
“Pemerintah menyadari keterbatasan pasokan solar saat ini dan kemungkinan berkurangnya ketersediaannya di masa mendatang. Oleh karena itu, sumber energi panas bumi di Atadei menjadi salah satu harapan terbesar kami untuk menjamin kemandirian dan keberlanjutan energi di Pulau Lembata,” tegas Bupati Kanisius.
Kasirun, Manager Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusa Tenggara 1, menjelaskan bahwa saat ini sistem kelistrikan di Pulau Lembata masih 100% bergantung pada pembangkit berbahan bakar minyak solar.
“Sistem kelistrikan Lembata memiliki beban puncak sebesar 5,7 MW dengan daya mampu sekitar 6,5 MW, seluruhnya berasal dari PLTD. Ketergantungan pada BBM tentu memiliki risiko di masa mendatang, baik dari sisi pasokan maupun biaya operasional. Karena itu, PLTP Atadei menjadi solusi yang strategis untuk menyediakan energi bersih dan berkelanjutan bagi masyarakat Lembata,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan PLTP Atadei bukan hanya bagian dari proyek strategis nasional, tetapi juga investasi jangka panjang dalam ketahanan energi dan kesejahteraan masyarakat.
General Manager PLN UIP Nusra, Yasir, turut menyampaikan pentingnya sinergi dan komunikasi yang berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan. Menurutnya, audiensi seperti ini menjadi jembatan untuk menyamakan persepsi dan memperkuat kepercayaan.
“PLN berkomitmen untuk terus membangun komunikasi terbuka dengan stakeholder, salah satunya melalui pertemuan-pertemuan seperti ini. Dengan adanya komunikasi yang intensif, seluruh pihak bisa memiliki pemahaman yang sama terkait arah pembangunan dan manfaat proyek bagi masyarakat,” ujar Yasir.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







