Kegembiraan serupa tidak hanya dirasakan Nirwa. Pengurus Musala Dusun Tanoh Rata, Desa Pante Peusangan, Muhammad Lidan, juga tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Ia mengisahkan bahwa sebelum kehadiran bantuan genset, warga sulit menjalani aktivitas ibadah khususnya pada malam hari tanpa penerangan.
“Semenjak ada masuk genset ini, alhamdulillah segala urusan (ibadah) bisa kita selesaikan. Lainnya adalah terkait penyebaran informasi, semuanya sudah terlaksana. Dan sekali lagi kami sebagai masyarakat sangat, sangat banyak berterima kasih,” ujarnya.
Kepala Desa Pante Peusangan, Samsudin, menjelaskan bahwa genset menjadi penopang utama aktivitas warga sembari menunggu jaringan listrik PLN dapat dipulihkan secara permanen.


“Dengan adanya genset ini, masyarakat tetap mendapat penerangan sementara, sebelum jaringan instalasi listrik PLN dapat diselesaikan. Atas nama pemerintah desa dan masyarakat, kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian ESDM, PLN, dan semua pihak yang telah membantu,” katanya.
Cerita serupa datang dari Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Kepala Desa Riseh Tunong, Abdurrahman menyampaikan bahwa bantuan genset ini sangat membantu warga di wilayah yang masih terisolasi dan belum sepenuhnya terjangkau jaringan listrik.
“Genset ini kami manfaatkan untuk penerangan fasilitas umum, masjid, pesantren, hingga lokasi pengungsian. Alhamdulillah, sekarang penerangan bisa menyala dan masyarakat merasa lebih aman,” jelasnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa secara sistem, kelistrikan di Aceh telah kembali terhubung. Namun, tantangan masih terjadi pada jaringan distribusi, terutama di wilayah dengan akses terbatas dan infrastruktur yang rusak atau masih tergenang air.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












