Pilih Mana? Suami Kakek-Kakek Tapi Diratukan atau Suami Ganteng Tapi Dijadikan Babu

Suami Kakek-Kakek
Ilustrasi Suami Kakek-Kakek

Dua puluh tahun lagi mulai mencari kacamata yang ternyata sudah dipakai di kepala.

Artinya apa? Ketampanan itu menyenangkan, tetapi tidak selamanya menjadi faktor utama kebahagiaan.

Karakter, kesetiaan, dan cara memperlakukan pasangan justru yang bertahan lebih lama.

4. Jangan Sampai Jadi Babu di Rumah Sendiri

Ini yang sering jadi polemik.

Banyak wanita rela bekerja keras demi keluarga.

Itu luar biasa.

Tapi berbeda cerita kalau semua pekerjaan dianggap kewajiban mutlak tanpa penghargaan sedikit pun.

Bangun pagi masak.

Siang beres rumah.

Sore urus anak.

Malam masih ditanya, “Kok kamu capek?”

Lho, piye toh Pak? Masa habis muter seharian masih ditanya kenapa capek.

Hubungan yang sehat adalah kerja sama. Bukan satu jadi raja, satunya jadi asisten pribadi.

5. Kakek-Kakek Belum Tentu Membosankan

Nah ini lucunya.

Banyak yang langsung membayangkan suami kakek-kakek pasti duduk di kursi goyang sambil pegang radio.

Eits… jangan salah.

Kadang yang usianya lebih matang justru lebih sabar, lebih kalem, dan lebih menghargai pasangan.

Pengalaman hidup membuat mereka lebih paham mana yang penting dan mana yang cuma drama.

Meski tentu tidak semua begitu ya.

Karena usia hanyalah angka.

Sikap tetap penentunya.

6. Wanita Sebenarnya Mencari Rasa Aman

Kalau dipikir-pikir lebih dalam, kebanyakan wanita bukan sekadar mencari wajah tampan.

Yang dicari adalah rasa aman.

Aman secara perasaan.

Aman secara sikap.

Dan, aman karena merasa dihormati.

Karena secantik apa pun pemandangan,

kalau hati setiap hari stres, tetap tidak nyaman.

Ibarat motor. Boleh bodinya kinclong seperti baru keluar showroom.

Tapi kalau mesinnya ngadat terus, ya bikin emosi juga.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel