“Saya tidak pernah punya pengalaman menangani temuan ini, tapi saya tahu ini temuan yang amat penting,” kata Wahyu lebih lanjut. Ia bertanya ke Rokus. “Pak Rokus, ini saya temukan seperti ini, kayaknya kepala. Benar, enggak, ini manusia?”
Pak Rokus langsung turun ke dalam kotak sedalam 6 meter. “Padahal, jarang sekali Pak Rokus itu turun karena dia di atas analisis temuan.” Dengan pencahayaan yang temaram, Pak Rokus mengonfirmasi temuan tengkorak yang menyembul itu. “Benar ini manusia. Tapi kecil!”
Wahyu mengaku saat itu ia senang sekaligus khawatir. Senang karena itu adalah temuan penting dan terlihat lengkap. Khawatir karena ia belum pernah memegang artefak semacam itu. Ia tidak berani mengutak-atik lebih lanjut temuan tengkorak tersebut. Ia meminta rekannya Jatmiko untuk mulai mengorek-korek tanah di sekitar tengkorak. Pelan-pelan makin tersingkap tengkorak individu yang diberi kode Liang Bua 1 (LB1) itu. Bagian dahinya sangat menonjol. “Ini pasti purba,” kata dia.
Wahyu memilih memegang kamera untuk dokumentasi temuan. Saat itu belum ada kamera digital. Setelah beberapa kali foto, ia sempat ragu apakah fotonya berhasil atau tidak. Tuntas kerja lapangan, Wahyu bergegas ke Kota Ruteng untuk mencetak foto temuan. Sialnya, toko langganan cetak foto sudah tutup. Akhirnya ia kembali ke hotel, bertemu dengan Ketua Tim Penggalian.
“Saat kita beritahu Pak Thomas kaget. Habis itu dia tidak bisa tidur, padahal sedang demam,” kata Wahyu menggambarkan. Hari selanjutnya, seluruh tim semangat kembali ke Liang Bua. Mereka pagi-pagi sekali berangkat. Temuan rangka segera dibersihkan dan diangkat seluruhnya beserta tanah untuk kemudian dibersihkan dan dikonservasi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





