Cepat, Lugas dan Berimbang

Pemerintah Berupaya Kembalikan Pendidikan Pancasila ke dalam Kurikulum

Wacana Positif Keagamaan

Romo Magnis mengatakan peserta didik harus mengalami pendidikan yang memberikan wacana positif keagamaan terbuka, membangun komunikasi antar penganut agama yang berbeda. Dan menumbuhkan kebanggaan sebagai orang Indonesia baik dalam pelajaran Sejarah, peristiwa nasional (contoh: sepak bola). Dan, mengalami Indonesia sebagai sebuah kemajuan keadilan, solidaritas, dan kesejahteraan.

Romo Magnis menegaskan tanggung jawab guru untuk bersikap positif dan terbuka terhadap perbedaan termasuk agama yang berbeda. Guru juga harus menunjukkan kebanggaan sebagai orang Indonesia dan menularkan semangat itu kepada para siswanya.

“Jika Pancasila diberikan sebagai hafalan maka tidak akan membentuk karakter, melainkan perlu diajarkan lewat keteladanan. Jangan sampai semacam ajaran dogmatik atau murid lulus kalau hafalannya benar,” tandasnya.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk. Yakni dengan beragam suku, ras, agama, dan kepercayaan, namun dipersatukan oleh kesepakatan-kesepakatan. Dalam sebuah teori disebut sebagai covenantal pluralism (pluralisme kovenantal), yaitu pluralisme atau kemajemukan yang tidak mencampuradukkan perbedaan. Tetapi tetap mempertahankan perbedaan-perbedaan di dalamnya.

“Pancasila adalah contoh kesepakatan utama yang amat penting tersebut. Dan itulah juga sebabnya banyak pengamat di berbagai negara yang tertarik dengan Pancasila. Karena dianggap mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang amat besar dan majemuk,” kata Matius.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN