Menurut Saverinus, pendekatan pelayanan yang dilakukan tidak langsung dimulai dengan pemeriksaan medis. Warga terlebih dahulu diajak mengikuti edukasi kesehatan dengan pendekatan lejong, yakni membangun kedekatan, komunikasi, dan suasana kekeluargaan bersama masyarakat.
“Kami senang dengan pendekatan pelayanan kesehatan hari ini yang didahului edukasi dengan pendekatan lejong sehingga warga yang datang merasa gembira. Ada canda dan tawa. Ini model pelayanan kesehatan yang kami butuhkan karena ada kenyamanan sebelum pemeriksaan medis,” katanya.
Ia mengatakan warga yang semula datang dengan perasaan tidak nyaman dan penuh kekhawatiran perlahan menjadi lebih rileks.
“Banyak yang tertawa dan gembira ketika Stanis berbicara,” ujarnya.
Mariam: Jangan Menunggu Sampai Sakit
Tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Mariam Huda, mengatakan kehadiran mereka di Gendang Woang merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan terhadap warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan setelah gempa.
“Kemanusiaan menyentuh hati kami. Karena itu kami datang untuk melayani saudara-saudara yang membutuhkan pertolongan dan pelayanan kesehatan,” kata Mariam.
Menurut dia, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana tidak boleh hanya menunggu warga datang ketika sudah sakit. Tenaga kesehatan perlu hadir secara aktif untuk melihat kondisi masyarakat, termasuk mendeteksi keluhan kesehatan dan trauma yang mungkin tidak langsung terlihat.
“Jangan menunggu pada saat sakit baru datang mencari pertolongan. Karena ada guncangan seperti ini, kami datang untuk melihat kondisi masyarakat, termasuk apakah ada yang mengalami trauma,” ujarnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











