Cepat, Lugas dan Berimbang

Menunggu Bhineka tanpa H Ketika Thailand Jadi Tailan, Bahasa Kita Sedang Apa?

infopertama.com – Waode Nurmuhaemin, salah satu kolumnis dalam tulisannya yang tayang di Kompas.com edisi Minggu, 18 Januari 2026 dengan Judul “Thailand jadi Tailan, bahasa Kita Sedang Apa?”

Dalam tulisan itu, Waode memulai dengan suatu kondisi sebagaimana biasanya publik Indonesia yang sibuk memperdebatkan isu besar, politik global, ekonomi yang serba tidak pasti bahasa bekerja diam-diam. Ia tidak turun ke jalan, tidak membuat pernyataan pers, tetapi pelan-pelan mengubah cara kita menyebut dunia.

Salah satunya lewat kabar yang membuat banyak orang berhenti sejenak: Thailand kini ditulis “Tailan” dalam Bahasa Indonesia. Sekilas tampak remeh. Hanya dua huruf yang hilang. Namun justru di sanalah letak persoalannya. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cara sebuah bangsa menata pengetahuannya tentang dunia.

Perlu diluruskan sejak awal: Thailand tidak mengganti nama negaranya. Yang berubah adalah penulisan dalam Bahasa Indonesia baku. Dan perubahan ini bukan hasil keputusan mendadak atau tren media sosial. Ia melalui proses institusional yang panjang dan relatif sunyi.

Prosesnya dimulai dari penyusunan dokumen eksonim nasional, yakni daftar nama geografis asing yang disesuaikan dengan kaidah Bahasa Indonesia. Dokumen ini disusun oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Badan Bahasa Kemdikbud, melibatkan ahli linguistik, akademisi, serta koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri.

Nama-nama negara dikaji ulang berdasarkan sistem bunyi (fonologi), ejaan (ortografi), dan konsistensi dengan pola serapan bahasa Indonesia. Dalam kajian tersebut, bunyi th dinilai tidak sesuai dengan sistem fonem Bahasa Indonesia. Sejak lama, bunyi itu cenderung disederhanakan menjadi t. Dari sinilah muncul bentuk baku Tailan sebagai serapan dari Thailand.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN