Keputusan ini kemudian dibahas dalam sidang komisi istilah, sebelum ditetapkan sebagai bentuk yang direkomendasikan. Tidak berhenti di dalam negeri, hasil pembakuan ini juga didaftarkan Indonesia ke United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) forum PBB yang menangani standardisasi nama geografis dunia.
Artinya, pembakuan “Tailan” bukan langkah sepihak, melainkan bagian dari komitmen Indonesia dalam tata kelola nama geografis internasional.
Tahap berikutnya adalah pemutakhiran Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Setelah masuk dalam daftar eksonim nasional, nama “Tailan” direkomendasikan menjadi bentuk baku yang digunakan dalam dokumen resmi, pendidikan, peta, dan media massa berbahasa Indonesia.
Namun, karena proses ini berlangsung administratif dan teknokratis, publik baru menyadarinya ketika istilah itu muncul di ruang media. Di situlah kegaduhan dimulai.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Bahasa Indonesia telah lama melakukan penyesuaian serupa. Philippines menjadi Filipina, Netherlands menjadi Belanda, Greece menjadi Yunani. Kita terbiasa dengan itu tanpa ribut.
Contoh yang sering luput dari perhatian adalah Uruguay. Dalam penggunaan internasional, negara Amerika Selatan itu tetap ditulis Uruguay. Namun dalam Bahasa Indonesia baku, ia menjadi Uruguai. Perubahan di ujung kata itu mengikuti pola fonetik Bahasa Indonesia yang lebih akrab dengan bunyi -ai ketimbang -ay. Tidak ada perdebatan panjang. Tidak ada penolakan massal.
Lalu mengapa Tailan terasa mengganggu?
Jawabannya sederhana: kedekatan. Tailan adalah negara tetangga, destinasi wisata populer, dan bagian dari percakapan sehari-hari. Ketika sesuatu yang dekat berubah, bahasa terasa seperti mengusik kebiasaan personal.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

