Ini menjadi seakan ironi kepada para cendekiawan. Mereka yang sebenarnya melampaui Sohaerto, memiliki modal untuk turut berperan merancang pembentukan kekuasaan alternatif. Yang terjadi, tidak sedikit cendekiawan yang tak berdaya berhadapan dengan kekuasana. Kenyataan ini disebutnya sebagai kekacauan irasional yang hampir tak terselamatkan.
Kedua, sebagai cendekiawan, Dhakidae seakan tidak menyukai jalan ‘rata’. Hal yang bersifat biasa dan rutin disingkirkan dari konteks berpikirnya. Demikain juga fakta yang terjadi baik masa lalu apalagi masa kini tidak pernah diterima dan diwariskan begitu saja.
Dhakidae justru menyulut optimisme untuk melakukan pendakian mencapai makna yang lebih mendalam. Makna itu yang dimaksud diawali dengan rangkaian beberan kronologi untuk kemudian diberi nyawa menjadi karya sejarah. Di sana semua fakta dipahami dalam konteks sehingga akhirnya menjadi karya historia grafis.
Bila analisis tidak sampai ke jiwa sejarah menghasilkan karya sejarah maka hal sangat ironis. Ia ibarat loteng rumah yang penuh dipenuhi benda-benda antik yang sudah lama ditinggalkan dalam keadaan lusuh. Loteng itu ibarat kepala yang hanya menyimpan fakta sejarah tetapi tidak mampu mengaktualisasikannya menjadi bermanfaat. Karenanya, perlu keberanian membongkar atau malah menyerunduknya agar debu bisa terangkat.
Ketiga, analisis Dhakidae menjadi bermakna kini bukan karena ia bisa diterapkan secara otomatis untuk konteks kini. Yang justru terjadi, bahwa ia sangat akrab dengan metode heuristik. Sebuah metode yang pada saat menghasilkan sebuah karya, ia sangat akrab membuat analisis dari perangkat yang disiapkan pada masanya seperti: buku, kamus, ensiklopedi, dan juga surat kabar, majalah, jurnal. Dengan data yang heuristik pada zamannya, ia sanggup membuat analisis kontekstual yang diharapkan memberi jawaban atas masalah zaman itu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







