
Dalam buku Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, 2003 misalnya, alumnus Seminari Todabelu ini tidak menguraikan definisi cendekiawan. Definsi baginya, seakan menarik fakta dari sebuah substansi. Hal itu tidak bisa diterapkan untuk cendekiawan, seorang cendekiawan hanya bisa dimengerti dalam relasi dengan modal, kekuasaan, dan kebudayaan.
Modal yang dimaksud tentu tidak terbatas pada kekuatan finansial. Modal lebih dimaknai sebagai kekuatan yang dimiliki, bila dioptimalkan dapat memberi manfaat. Sayangnya, kekuatan itu kerap tidak dimanfaatkan secara produktif. Yang terjadi, modal itu tidak dioptimalkan sehingga memberi ruang bagi penguasa untuk melaksanakan fungsi yang destruktif.
Atas kesadaran ini, maka cendekiawan hanya akan terbukti ketika ia terus berada dalam proses menjadi. Modal diri harusnya dapat ditransformasi secara positif menjadi kekuatan. Kekuatan ini bila dilaksanakan secara perlahan dan konsekuen maka dapat melahirkan budaya yang lebih transformatif.
Pendaki Sejati
Keengganan memberikan definisi cendekiawan, menjadi kesulitan yang sama untuk bisa mendefinsikan seorang Dhakidae. Pemikir multidimensional yang paham tentang ‘comparative politics’ menjadi pemikir yang tidak bisa disimpulkan apalagi didefinsiikan. Yang bisa dilakukan adalah mereka-reka beberapa kekuatan yang bisa menjadi pembanding.
Pertama, kekuasaan sepertinya tidak diartikan oleh Daniel sebagai kekuatan fisik yang hanya bisa diterima. Tetapi kerap justru dihadapi dengan ketakberdayaan. Soeharto misalnya, pada masanya menjadi representasi kekuasaan otoriter yang nyaris tertandingi. Hal itu merupakan ironi. Kekuatan yang dimiliki sebenarnya dikonstruksi dengan bantuan militer dan media. Hal itu menjadikan Soeharto yang awalnya hanya seorang anak petugas desa pengatur air untuk bisa memiliki kekuasaan yang begitu dahsyat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







