infopertama.com – Iran menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai Pemimpin Tertinggi sementara menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Teheran, Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.
Penunjukan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas pemerintahan selama masa transisi hingga pemimpin tertinggi definitif terpilih.
Berdasarkan konstitusi Iran, kewenangan memilih Pemimpin Tertinggi berada di tangan Majelis Pakar, sebuah badan beranggotakan sekitar 90 ulama senior yang dipilih setiap delapan tahun.
Selama periode transisi, Arafi ditunjuk sebagai anggota ahli hukum dalam Dewan Kepemimpinan sementara bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei.
Dewan tersebut bertugas menjalankan fungsi dan kewenangan Pemimpin Tertinggi hingga Majelis Pakar menetapkan pengganti tetap.
Latar Belakang dan Karier Arafi
Ayatollah Alireza Arafi lahir pada 1959 di Meybod, Provinsi Yazd. Ia berasal dari keluarga ulama dan menempuh pendidikan keagamaan di Qom, pusat pendidikan Islam Syiah di Iran. Arafi telah mencapai tingkat Mujtahid, yang memberinya otoritas untuk mengeluarkan fatwa secara independen.
Pengaruh Arafi lebih banyak dibangun melalui jalur kelembagaan ketimbang politik elektoral. Pada periode 2009-2018, ia menjabat sebagai pimpinan Universitas Internasional Al-Mustafa di Qom, lembaga yang berfokus pada pendidikan ulama dari Iran dan berbagai negara.
Dalam salah satu pernyataannya, Arafi pernah menyebut jaringan institusi tersebut memiliki misi global penyebaran ajaran Syiah. Klaim tersebut menuai sorotan, namun menunjukkan peran strategisnya dalam diplomasi keagamaan Iran.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











