Beruntung mereka telah menjadi anggota dari salah satu Koperasi Simpan Pinjam berbadan Hukum, KSP CU Efata namanya untuk bisa mendapatkan akses pinjaman guna membiyai pendidikan anak-anak mereka dan juga untuk membeli beras. Walaupun kemungkinan mereka untuk macet mengembalikan pinjaman cukup besar sebab ada ketidakpastian pendapatan dari hasil tanaman perkebunan.
Dari pengalaman ini, Rikhardus, menyarankan kepada mereka beberapa hal penting. Antara lain, 1). agar lahan yang belum dimanfaatkan saat ini harus segera ditanami hortikultura, mengembangkan usaha ternak babi/ayam, menanam lada dll, dengan meminjam modal usaha di Koperasi Kredit Efata, 2). Menekan pengeluaran supaya tidak melampaui pendapatan, misalnya untuk urusan sosial sebaiknya nilai uang yang mau diberikan disesuaikan dengan kemampuan, 3). Setiap ada penghasilan sebaiknya 30 – 40 persen di simpan di Koperasi Kredit pada jenis Simpanan SIBUHAR (darurat) dan Simpanan Pendidikan (SIPENDIK) , 4). Merencanakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga Tahunan dan 5). Berani berinvestasi dengan dua cara, menyimpan uang di Koperasi Kredit yang nilai bunga cukup tinggi (pendapatan pasif) dan mengembangkan usaha di bidang pertanian dan peternakan.
Kepada para peserta juga diinformasikan suatu isu penting bahwa Manggarai Timur sedang terkena dampak perubahan iklim yang berimplikasi pada penurunan hasil padi dan tanaman perdagangan.
Kelompok Tani Hutan Suka Maju Rana Kolong adalah kelompok tani yang menjadi sasaran dari program kerjasama MPIG-Yayasan Ayo Indonesia didukung oleh Yayasan Kehati Jakarta-CIMB Niaga untuk melaksanakan perhutanan sosial di Kawasan Hutan Manus Mbengan. Jumlah anggota kelompok sebanyak 21 KK di Kampung Susang, Desa Rana Kolong, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur. Jenis tanaman yang dikembangkan pada program Perhutanan Sosial tersebut adalah Bambu dan Pala.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











