Literasi Keuangan Mesti Dikuasai Oleh Para Petani di Perdesaan

Akan tetapi, mereka tidak pasrah atau putus asa menghadapi kondisi ini. Yang mereka lakukan agar tetap punya uang, tungku masih bisa menyala di dapur adalah mencari penghasilan lain dengan cara menjual ubi/keladi, menjadi buruh harian di kebun milik petani lain, dan buruh bangunan. Walaupun, upaya baik ini, tidak menyelesaikan soal, sebab dari segi pengeluaran rutin mereka per tahun terbilang cukup besar, baik guna memenuhi kebutuhan primer, sekunder maupun untuk urusan-urusan sosial kemasyarakatan. Perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran ternyata masih besar pasak dari pada tiang, sudah terjadi sejak lama, pengeluaran lebih tinggi jika dibandingkan dengan pendapatan. Kenyataan lain, Potensi lahan yang dimiliki atau bisa dikatakan aset tanah cukup tersedia untuk peningkatan pendapatan guna membalikkan keadaan melalui usaha hortikultura, penanaman komoditi lain (bambu/lada) dan peternakan. Modal usaha bisa pinjam di Koperasi Kredit Efata Wojang.

Pos pengeluaran yang terus mengalami peningkatan nilai rupiahnya adalah untuk urusan sosial kemasyarakatan. Seperti kegiatan pengumpulan dana untuk biaya pendidikan dan juga pernikahan anak dari para sahabat, kerabat, dan warga sekampung. Bisa dinilai bahwa mereka kebanyakan belum memilik sikap bijaksana dalam menggunakan uang dan mereka juga tidak mempunyai perencanaan anggaran dan pendapatan tahunan keluarga yang menjadi acuan dalam mengendalikan pengelolaan keuangan dan memaksimalkan pendapatan.

Kepada para peserta pelatihan, Rikhardus mengingatkan jika kondisi ini tidak segera diatasi atau diperbaiki maka bukan mustahil Bapak Ibu rentan untuk terjerat pada pinjaman uang dengan bunga tinggi, ijon, meninggalkan keluarga untuk mencari pekerjaan di luar daerah dan menjual tanah.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel