Catatan perjalanan dari Woang hingga Golo Lambo, Manggarai, tentang keluarga yang bertahan, kebun yang terus menghasilkan, dan modal sosial yang membantu masyarakat menata kembali kehidupan setelah bencana.
Oleh: Rikhardus Roden Urut
infopertama.com – Pagi itu saya berangkat dari Woang dengan mengendarai sepeda motor Vario. Tujuan saya sederhana: melihat dari dekat bagaimana warga menjalani kehidupan setelah gempa yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Bagi saya, perjalanan seperti ini adalah lejong—datang, duduk, mendengarkan, dan memberi ruang kepada orang lain untuk bercerita. Saya ingin melihat bukan hanya kerusakan dan bantuan, tetapi bagaimana orang-orang melanjutkan kehidupan ketika kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi.
Di Kampung Mena, Jalan Komodo, saya melihat dua perempuan lanjut usia duduk di bawah payung yang sudah kusut. Mereka menjual bensin eceran. Saya berhenti membeli satu botol.
Saya menggunakan nama Mama Theresia dan Mama Martina untuk keduanya. Nama itu bukan nama sebenarnya. Salah seorang berjualan untuk membantu kebutuhan dapur dan pendidikan anak karena suaminya tidak dapat bekerja akibat sakit. Yang lainnya, dengan handuk melilit kepala sambil mengunyah sirih pinang, masih berjualan setelah suaminya meninggal. Ia membantu keluarga, terutama dua cucunya yang masih sekolah.
“Saya berjualan untuk membantu keluarga. Masih ada cucu yang sekolah. Selama saya masih kuat, saya akan terus berusaha,” kata Mama Martina.
Di bawah payung kusut, di tengah panas, debu, dan asap kendaraan, saya melihat bentuk sederhana dari daya tahan diri: kemampuan untuk menerima kenyataan yang sulit dan tetap menemukan alasan untuk bergerak.
Kadang-kadang daya tahan itu tidak tampak dalam tindakan besar. Ia hanya berupa keputusan untuk kembali membuka tempat jualan pagi itu.
Nterlango: Rumah Rusak, Kebun Tetap Menghasilkan
Dari Kampung Mena saya melanjutkan perjalanan ke Nterlango, Desa Poco Likang, Kecamatan Ruteng, sekitar 950 meter di atas permukaan laut. Kekeringan dan berkurangnya air mulai terasa.
Di sana saya bertemu Om Sebas, anggota Kelompok Disabilitas Desa (KDD). Rumahnya rusak akibat gempa. Bersama keluarga dan tetangga, ia membangun tempat tinggal sementara berdinding bambu.
Seorang anak perempuannya yang merupakan penyandang disabilitas dan tidak dapat berbicara, menyambut saya dengan gembira.
Di halaman rumah tumbuh ratusan seledri dalam polybag. Di belakang rumah ada terung. Tanaman yang ditanam sekitar empat bulan sebelumnya telah dipanen dan dijual ke pasar Ruteng, menghasilkan ratusan ribu rupiah setiap minggu.
Om Sebas juga menunjukkan hasil panen sekitar 50 kilogram sorgum, yang digunakan sebagai pangan dengan mencampurkannya bersama beras.
“Kami bersyukur ada yang datang membantu. Tetapi kami tidak bisa hanya menunggu bantuan. Kami harus terus menanam, karena dari kebun kami bisa mendapatkan makanan dan uang untuk kebutuhan keluarga,” katanya.
Saat lejong, hadir pula enam keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan. Percakapan tidak hanya tentang bangunan yang rusak, tetapi tentang pangan, pendapatan, anak-anak, dan bagaimana kehidupan harus terus berjalan.
Di situ saya belajar bahwa pemulihan tidak selalu dimulai dari bangunan. Ia dapat dimulai dari kemampuan keluarga mempertahankan pangan dan pendapatan dengan apa yang masih dimiliki.
Bantuan yang Menjadi Jembatan
KDD Poco Likang menerima bantuan yang secara khusus diarahkan kepada anak-anak penyandang disabilitas dan keluarga mereka. JPIC SVD Ruteng dan Biara SSPS memberikan beras dan selimut.
Seorang suster SSPS menyampaikan pesan yang sederhana, “Ini bantuan yang kami bawa untuk meringankan kebutuhan keluarga. Tetapi jangan lupa untuk terus menanam sayuran. Dari kebun itu keluarga bisa mendapatkan makanan dan penghasilan. Keluarga sendiri tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi keadaan ini.”
Pesan itu penting. Bantuan diperlukan untuk melewati masa darurat, tetapi tidak seharusnya menggantikan kemampuan keluarga untuk bangkit. Beras memenuhi kebutuhan hari ini. Kebun membuka kemungkinan untuk hari-hari berikutnya. Karena itu, pertanyaan pemulihan bukan hanya apa yang harus diberikan, tetapi juga apa yang harus diperkuat agar keluarga mampu membangun kembali kehidupannya.
Modal Sosial yang Bekerja
Cerita Om Sebas membawa saya pada kekuatan lain: hubungan sosial.
Anggota KDD mengembangkan Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) dan menabung melalui KSP CU Florette. Mereka juga memiliki dana diakonia untuk membantu anggota yang mengalami kesulitan.
Sebelum gempa, tabungan kelompok pernah digunakan untuk membeli seekor kambing jantan untuk diberikan kepada keluarga lain yang sedang mengembangkan usaha sayuran.
Secara ekonomi, nilainya mungkin sederhana. Secara sosial, maknanya lebih besar: sumber daya satu keluarga dapat menjadi peluang bagi keluarga lain.
Di lapangan, modal sosial yang dibahas Pierre Bourdieu, James Coleman, dan Robert Putnam hadir dalam bentuk yang sangat konkret: tabungan, dana solidaritas, kambing, tetangga, kepercayaan, dan kesediaan untuk saling membantu.
Orang tidak menghadapi kesulitan seorang diri.
Kalo: Ketika Air Semakin Sulit
Sekitar empat puluh menit kemudian saya tiba di Kalo, Desa Lentang, Kecamatan Lelak.
Tanda kekeringan semakin jelas. Daun-daun mahoni berguguran. Aliran air di sebuah sungai kecil mulai berkurang.
Saya bersama Ignasius Labur (54) dan Aleksis Nando (28), seorang petani muda yang mengembangkan agribisnis, berjalan menuju kebun di selatan Kalo. Kami melewati kebun cengkeh dan pepohonan mahoni. Jalan menurun sekitar 30 derajat dan saya mulai terengah-engah.
Di kebun Nando tumbuh tomat, kol, cabai besar, dan pakcoy. Untuk mengatasi keterbatasan air, ia membuat kolam kecil berlapis terpal untuk menampung air dari kali kecil di bagian selatan kebunnya. Pada lubang tanam terlihat potongan biochar yang diproses dari sekam padi dan bagian tumbuhan kering yang ada di sekitar kebun sayurannya untuk membantu mempertahankan kelembapan tanah.
Aneka jenis sayuran di kebun milik Nando terakhir disiram tiga hari sebelumnya, tetapi masih tampak segar. Soil tester, alat pengukur tanah, menunjukkan kelembapan sekitar 70 persen.
“Air sekarang semakin sulit. Kami harus mencari cara supaya tanaman tetap hidup. Kalau hanya menunggu hujan, kami tidak bisa terus bertani,” kata Nando.
Bagi saya, ini bentuk lain dari kemampuan bertahan: bukan sekadar bertahan, tetapi beradaptasi dan mencoba cara baru.
Kebun dan Jaringan Pasar
Di rumah Om Hubert, istrinya bercerita bahwa penjualan petsai dan wortel selama periode setelah gempa menghasilkan sekitar Rp5 juta. Mereka berencana terus menjual hingga Oktober 2026.
Om Gena memperoleh sekitar Rp4,8 juta dari penjualan petsai dan juga berencana melanjutkan usaha hingga Oktober.
“Rumah memang mengalami kerusakan, tetapi kebun harus tetap jalan. Selama sayuran masih bisa dijual, kami akan terus menanam,” kata Om Gena.
Usaha itu ditopang jaringan pasar. Sayuran dijual kepada Om Niko, pedagang di Pasar Ruteng, dan Heri, penjual sayur keliling dari Kampung Kalo.
Hubungan yang sudah terbentuk sebelum bencana kini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga. Petani membutuhkan pembeli, pedagang membutuhkan pasokan, dan konsumen membutuhkan sayuran.
Modal sosial ternyata juga dapat mengubah hasil kebun menjadi uang sekolah, pangan, biaya rumah tangga, dan modal usaha berikutnya.
Mama Petronela: Bekerja untuk Pendidikan
Dari Kalo saya menuju Pasar Sotor dan bertemu Mama Petronela Alus, 73 tahun.
Ia menjual ubi keladi yang diperoleh dari penyuplai asal Ngada serta keripik, dan memelihara babi untuk membantu membiayai pendidikan dua anak yang diasuhnya. Salah seorang sedang belajar di Seminari Tinggi Ritapiret, sementara yang lain bersekolah di salah satu SMA di Ketang.
“Saya masih bisa bekerja, jadi saya terus berjualan. Yang penting anak-anak bisa sekolah,” katanya.
Bagi Mama Petronela, bekerja bukan hanya soal pendapatan. Ada masa depan anak yang sedang diperjuangkan.
Rengkas: Dinding Roboh, Usaha Berjalan
Perjalanan berakhir di Kampung Rengkas, Desa Golo Lambo, Kecamatan Satar Mese. Di sana saya bertemu Valensius Mai (34), yang akrab dipanggil Falens, di rumah sementaranya.
Atap rumah lamanya masih utuh. Namun, sebagian dinding roboh dan sebagian lainnya retak akibat gempa. Bersama keluarga dan tetangga, ia membuat tempat berlindung sederhana berdinding bambu dan beratap seng di samping rumah.
Pada awal pertemuan, Falens bercerita tentang rumah yang dibangunnya dengan keringat sendiri. Saya lebih banyak mendengarkan.
Beberapa saat kemudian percakapan beralih ke kebun.
Pada 15 dan 16 Agustus 2026, Falens menjual cabai varietas asal Amerika Latin dan buncis kepada beberapa pemilik rumah makan Padang di Ruteng. Harga sedang baik dan hasil penjualan digunakan untuk kebutuhan keluarga.
Yang menarik, pengalaman itu membuatnya berpikir lebih jauh. Ia ingin memperluas lahan usaha untuk meningkatkan pendapatan karena melihat permintaan pasar yang kuat.
“Rumah memang mengalami kerusakan, tetapi saya masih punya kebun. Permintaan cabai dan buncis bagus. Karena itu saya berpikir untuk memperluas lahan usaha supaya pendapatan bisa meningkat,” katanya.
Dinding rumahnya roboh dan retak. Namun, pikirannya tidak berhenti pada kerusakan. Ia sedang menghitung peluang.
Di situlah saya melihat kemampuan untuk tidak menyerah pada kehilangan: bukan melupakan kehilangan, tetapi tidak membiarkan kehilangan menentukan seluruh masa depan.
Tiga Lapisan Daya Tahan
Perjalanan dari Woang hingga Rengkas membuat saya melihat bahwa pemulihan memiliki sedikitnya tiga lapisan.
Pertama, daya tahan diri. Seseorang perlu mampu menghadapi kehilangan, mengambil keputusan, beradaptasi, dan melihat kemungkinan di tengah keterbatasan.
Kedua, daya tahan keluarga. Keluarga adalah garis pertahanan pertama. Diversifikasi pangan dan pendapatan, tabungan, keterampilan usaha, pengelolaan air, serta kesiapsiagaan perlu diperkuat.
Ketiga, daya tahan sosial. KDD, UBSP, koperasi, kelompok tani, KBG, jaringan pasar, gereja, pemerintah desa, dan lembaga sosial dapat menjadi ekosistem yang membantu keluarga menghadapi krisis.
Daya tahan pribadi diperkuat keluarga. Daya tahan keluarga diperkuat komunitas. Dan komunitas yang kuat menciptakan ruang agar setiap keluarga tidak menghadapi bencana seorang diri.
Karena itu, pemulihan sebaiknya bergerak dari bantuan menuju pemulihan, dari pemulihan menuju penguatan kapasitas, dan dari penguatan kapasitas menuju kemandirian.
Bantuan darurat tetap penting. Tetapi setelah kebutuhan dasar terpenuhi, perhatian perlu diarahkan pada usaha produktif, diversifikasi pangan dan pendapatan, tabungan darurat, pengelolaan air dan tanah, akses pasar, keterampilan anak muda, serta inklusi penyandang disabilitas.
Yang tak kalah penting adalah memperkuat dana solidaritas, gotong royong, jaringan informasi, dan kesiapsiagaan komunitas.
Bencana tidak kita pilih. Namun, cara meresponsnya dapat menjadi pilihan.
Bencana memang meruntuhkan rumah, mengganggu pendapatan, dan mengurangi rasa aman. Tetapi pengalaman itu dapat menjadi cermin untuk mengevaluasi bagaimana keluarga dan masyarakat mengelola pangan, pendapatan, tabungan, pendidikan, risiko, dan hubungan sosial.
Pulang dengan Cara Pandang yang Berbeda
Ketika meninggalkan Rengkas, rumah Falens belum diperbaiki. Namun, saya tidak pulang hanya membawa gambaran tentang kerusakan.
Saya membawa cerita tentang dua perempuan yang masih berjualan di bawah payung kusut; tentang Om Sebas dan enam keluarga yang duduk bersama; tentang 50 kilogram sorgum; seledri yang tumbuh dalam polybag; kolam air sederhana; daun mahoni yang berguguran; tabungan kelompok yang berubah menjadi kambing produktif; pedagang yang terus membeli sayuran; Mama Petronela yang bekerja demi pendidikan anak; dan Falens yang sudah berpikir memperluas usaha di tengah rumah yang rusak.
Mungkin di situlah makna lejong yang semakin saya pahami: datang untuk melihat, duduk untuk mendengarkan, dan pulang dengan belajar.
Pemulihan bukan hanya memperbaiki dinding yang roboh. Ia juga berarti membangun kembali keberanian dalam diri, menata kehidupan keluarga, dan memperkuat ikatan sosial.
Rumah dapat diperbaiki. Kebun dapat ditanami kembali. Pendapatan dapat dibangun kembali. Jaringan sosial dapat diperkuat.
Dari sana, perlahan tumbuh sesuatu yang lebih penting: ketangguhan diri, ketangguhan keluarga, dan ketangguhan komunitas—kemampuan untuk tidak hanya melewati bencana, tetapi belajar darinya, beradaptasi terhadap perubahan, dan membangun kembali kehidupan dengan kekuatan yang bersumber dari diri sendiri, keluarga, kebun, serta jaringan sosial yang saling menopang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel










