Langkah HEOC Manggarai Hadapi Penyakit Menular yang Menghantui Penyintas di Tenda Darurat

Ruteng, infopertama.com – Penanganan krisis kesehatan pascadampak bencana gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang menguncang Kabupaten Manggarai dan sekitarnya pada Sabtu (15/8/2026) terus dilakukan secara terpadu.

Hingga penghujung masa tanggap darurat per Jumat (28/8/2026) pukul 18.00 WITA, Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 49 orang.

Berdasarkan data Situation Report (SITREP) Kemenkes, korban jiwa terdiri atas 23 laki-laki dan 26 perempuan, dengan mayoritas korban merupakan kelompok usia lanjut (lansia) sebanyak 30 jiwa.

Selain korban meninggal, sebanyak 58 warga mengalami luka berat dan menjalani rawat inap, 556 orang mengalami luka ringan, serta 50.556 jiwa kini bertahan di 187 titik posko pengungsian. Total masyarakat yang terdampak gempa bumi ini diperkirakan mencapai 85.325 jiwa.

Gempa susulan yang tercatat telah terjadi sebanyak 7.492 kali berdampak signifikan pada kelumpuhan infrastruktur medis. Sebanyak 214 unit fasilitas kesehatan (faskes) dilaporkan mengalami kerusakan. Rinciannya mencakup 61 unit rusak berat (termasuk RSUD BLU Ruteng dan RS Pratama St. Rafael Cancar), 97 unit rusak sedang, dan 56 unit rusak ringan.

Kondisi kerawanan struktur bangunan memaksa seluruh pelayanan kesehatan di 25 Puskesmas se-Kabupaten Manggarai dialihkan ke luar gedung memanfaatkan tenda darurat.

Ancaman Penyakit Menular dan Temuan Suspek Pertusis

Ketua HEOC Kabupaten Manggarai, Jefrin Hariyanto saat ditemui di Posko Dinkes menjelaskan menjelaskan fokus pada evakuasi dan perawatan medis kegawatdaruratan, tim Health Emergency Operations Center (HEOC) dinas Kesehatan kabupaten Manggarai kini menaruh perhatian serius pada potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular di arena pengungsian.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel