Ruteng, infopertama.com – Jumlah korban jiwa pascadampak bencana terus bertambah hingga menyentuh angka 50 orang. Di tengah duka dan proses evakuasi yang masih berjalan, ancaman fatal lain kini membayangi para penyintas di lokasi pengungsian.
Kasus kematian korban akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan komplikasi pernapasan berat di area pengungsian mandiri menjadi alarm keras bagi publik serta pihak berwenang akan buruknya kondisi sanitasi dan perlindungan kesehatan di tenda-tenda darurat.
Data rekapitulasi terbaru mencatat sebaran korban meninggal terbanyak berada di Kecamatan Reok dengan 23 jiwa, disusul Langke Rembong dengan 10 jiwa, Cibal 5 jiwa, Reok Barat 4 jiwa, Wae Rii 3 jiwa, Satarmese Utara 2 jiwa, serta Cibal Barat, Rahong Utara, dan Ruteng masing-masing 1 jiwa.
Meski mayoritas korban meninggal akibat tertimpa bangunan dan guncangan shock, munculnya korban jiwa akibat ISPA seperti Herman Jahar (63) di pengungsian mandiri Perak, serta kasus pneumonia berat yang merenggut nyawa bayi Maria Mitrovicea T. Seba (6 bulan), menguak bahaya laten yang mengintai di tempat penampungan.
Kondisi tenda darurat yang sempit, berdebu, memiliki sirkulasi udara buruk, serta paparan suhu dingin malam hari menjadi faktor utama pemicu tingginya risiko ISPA pada pengungsi.
Pakar kesehatan mengingatkan bahwa ISPA yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri dapat berkembang amat cepat menjadi pneumonia atau radang paru-paru akut jika tidak segera ditangani.
Pada kelompok rentan seperti balita dan lansia, paparan debu runtuhan, penurunan daya tahan tubuh akibat stres pascabencana, serta keterbatasan air bersih memicu peradangan saluran pernapasan yang menyumbat aliran oksigen secara fatal.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












