Laporan surveilans mencatat penyakit ISPA/Batuk menjadi yang terbanyak dikeluhkan pengungsi dengan 4.680 kasus, disusul penyakit kulit (2.411 kasus), hipertensi (585 kasus), dan diare (276 kasus). Lonjakan kasus penyakit ini terpusat di wilayah dengan konsentrasi pengungsi tinggi seperti Puskesmas Reo dan Puskesmas Timung.
Tim Dinas Kesehatan Manggarai, sebut Kadis Jefrin bersama Tim FETP Universitas Gadjah Mada (UGM) juga mendeteksi adanya satu kasus suspek Pertusis (batuk rejan) pada seorang bayi berusia 3 bulan asal Desa Urang, Kecamatan Lelak, yang bermukim di tenda pengungsian mandiri. Pengambilan spesimen telah dilakukan untuk mengantisipasi potensi penularan di lingkungan padat pengungsi.
Langkah Penanganan dan Pemulihan Komunikasi
Demikian ketua HEOC Jefrin Haryanto, Guna mengatasi kendala komunikasi dan transportasi akibat terputusnya jaringan listrik serta akses jalan longsor, Kemenkes dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mendistribusikan logistik darurat.
Sebanyak 19 unit tenda pelayanan ukuran 6 x 12 meter telah didirikan di rumah sakit dan puskesmas terdampak. Selain itu, 4 unit internet satelit Starlink telah dipasang di Puskesmas Bea Mese, Loce, Wae Codi, dan Wae Kajong guna memastikan alur rujukan dan pelaporan data darurat tetap berjalan real-time.
“Untuk menjaga kesehatan gizi balita dan anak-anak pengungsi, posko Dapur Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) mulai dibangun di Desa Nenu dan Desa Golo Langkok. Layanan imunisasi rutin pun terus digencarkan secara mobile, di mana hingga Kamis (27/8) sebanyak 1.385 bayi/baduta telah mendapatkan layanan imunisasi rutin di posko-posko darurat.” Ujar Jefrin Haryanto, Sabtu (29/08/2026).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











