Transformasi Organisasi: Dari Yayasan ke Perkumpulan
Salah satu momen paling signifikan adalah pengumuman resmi pembubaran Yayasan Karya Kolping, berdasarkan Surat Keputusan Ketua Dewan Pembina, Pater Marianus Dapa Talu, CSsR. Langkah ini menjadi simbol bahwa Kolping Indonesia siap melangkah dengan semangat baru, meninggalkan bentuk hukum lama demi struktur yang lebih partisipatif dan representatif.
Setelah itu, Konvensi menetapkan dan menyetujui Anggaran Dasar Perkumpulan Kolping Indonesia secara bulat. Penandatanganan Berita Acara Pendirian Perkumpulan oleh 13 Anggota Pendiri yang mempunyai hak suara dalam Konvensi.
Pemilihan Pengurus: Demokrasi dalam Gerak
Melalui proses pemilihan rahasia yang berlangsung hangat namun intens, terbentuklah susunan baru Pengurus dan Pengawas Perkumpulan Kolping Indonesia. Bapak Adam Musi, Ketua Kolping Ruteng terpilih menjadi Ketua Pengurus Nasional yang baru. Sebagai Direktur Eksekutif, ditunjuk Bapak Paulce Parera, yang akan memimpin kantor pusat Perkumpulan di Katiku Loku, Sumba Tengah.
Paulce diberi mandat untuk segera membentuk tim kerja dan menyusun program kerja, dimulai dari langkah konkret: Program 100 Hari. Program ini mencakup konsolidasi keanggotaan, pendataan ulang Keluarga Kolping, Musyawarah Karya di tiga Keuskupan (Weetebula, Ruteng dan Kupang), pengesahan Perkumpulan Kolping Indonesia bersama Notaris terpilih, dan penyusunan Program Kerja 2025.
Suara-Suara Peserta Konvensi
Di sela-sela kegiatan Konvensi, beberapa peserta memberikan komentar yang menandai kesan mereka tersendiri: “Konvensi ini benar-benar jadi momen yang luar biasa, kita berhasil menghadirkan orang-orang hebat, memilih Pengurus yang tidak hanya cerdas tapi juga punya hati, dan semua berjalan dengan baik. Saya pribadi merasa ini awal yang sangat baik untuk Kolping Indonesia, apalagi masih sempat menikmati Kolping Tiles dan sesi sharing yang penuh inspirasi,” kata Sisilia Pawolung dari Kolping Katiku Loku.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







