Sebelum mengenal judi daring, Andang adalah seorang pengusaha barang-barang lawasan (vintage) di Jawa Timur. Ia juga hidup bahagia bersama istri dan dua anaknya. Akan tetapi, petaka itu mulai datang saat pertama kali berkenalan dengan judi daring pada awal 2020. Dari melihat teman-temannya bermain, ia tertarik mencoba.
”Rata-rata prosesnya seperti itu. Dari teman. Awalnya lihat-lihat, penasaran, dan dipelajari. Lalu mulai dari deposit kecil. Dalam perjalanan dikasih menang. Manusia ada sifat tamak sehingga maunya banyak. Tetapi, kemudian dia rugi besar. Lalu muncul keinginan bagaimana bisa balik. Tapi, bukannya makin baik, malah makin hancur,” kata Andang.
Andang juga melewati proses itu. Dari menang besar hingga kemudian berakhir hancur. Ia mengatakan, pernah menang hingga Rp140 juta dengan modal Rp400.000 di situs Pragmatic4D. Itu pun dalam waktu singkat, yakni 20 menit saja. Kemenangan itu membuat ketagihannya menjadi-jadi. Namun, kemudian kekalahan demi kekalahan juga ia rasakan. ”Dalam sehari, saya pernah kalah mulai dari Rp20 juta hingga Rp80 juta, ” kata Andang.
Menggadaikan hidup
Alih-alih berhenti, ia justru mencari cara untuk bisa terus bermain. Ia mengaku menjual dua mobil hingga menggadai sertifikat rumah. ”Saya bilang kepada istri untuk modal usaha. Saya gadaikan dan dapat Rp100 juta. Tetapi bukan buat usaha, malah masuk ke situ (judi daring). Habis di situ,” kata Andang.
Menurut Andang, jika sudah kecanduan, main itu sudah bukan antara menang dan kalah. ”Kayak apa ya, kayak orang candu. Sehari saja tidak main, sudah hampir kayak gila setengah mati. Akhirnya bukan kalah menang kalau fase itu. Dan, candu itu tidak butuh lama. Dua kali tiga kali main sudah bisa candu,” kata Andang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












