Sebab itulah, entah dalam rasa hati tak menentu, toh ‘pulang kepada diri, yang masih kaya ibarat lebat hutan perawan dan tersembunyi,’ mesti tetap digencarkan. Di tampang luaran dunia bisa kagumi kita sebagai ‘bahagia penuh senyum ceriah, namun sejati kita sendirilah yang lagi bergulat dengan jeritan hati: biar sangkarku terbuat dari emas, lebih baik ku hidup di hutan luas.
Bagi kawula muda, atau katakan saja, buat yang masih miliki energi hidup dan potensi diri yang masih berlimpah, sekiranya ‘belajar menata pikiran tentang diri sendiri’ demi ‘menemukan diri sejati’ (Peter Shepherd) tetaplah menjadi ‘ruang terbuka hijau yang tetap miliki harapan.’
Tulis Peter Sherpherd, “Kita harus kembali mendapatkan kehidupan dan jujur kepada diri sendiri. Hanya dengan itu satu-satunya cara untuk beroleh kebahagiaan yang tulus….”


Siapapun pantas dapatkan apa yang sepantasnya didapatkan. Tentu dalam pergulatan dengan diri sendiri dalam kisah dan peristiwa hidup yang nyata. Kita bisa tampak bagai ‘negeri di atas awan, namun sejatinya kita tetaplah bertumpuh di bumi yang berputar, yang pastinya punya banyak gejolaknya.’
Di dalam dunia penuh pertarungan (yang banyak tak sehatnya) kata-kata pujian dan cemoohan itu sering kamuflatif gerak arusnya. Artinya? “Yang bernada pujian dan banyak angkat-angkatnya itu sebenarnya se lagi membabat. Yang terus mencaci, menghina dan menantang, justru di situ ada peluang untuk maju dan berkembang.
Jika mesti kembali ke laptop, iya yang terindah adalah ‘kembali pada kekuatan diri sendiri dan juga mengakrabkan diri pada ketidakhebatan, kekurangan dan kelemahan sendiri.’ Toh, kita bukanlah siapa-siapa juga yang wajib mentereng di segala lini.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






