Tengkorak Homo floresiensis di Liang Bua

Arkeolog Raden Soejono mendengar tentang gua Liang Bua dari Pendeta Verhoeven. Tim peneliti Puslit Arkenas Indonesia, University of New England, dan University of Wollongong Australia lalu memulai penggalian di sana pada 2001.
Pada September 2003, pekerja upahan setempat Benyamin Tarus menemukan bagian atas sebuah tengkorak. Di proyek penelitian Thomas Sutikna dkk tersebut, arkeolog Wahyu Saptomo yang mengawasi penggalian ini meminta tengkorak temuan Benyamin diperiksa ahli fauna Rokus Due Awe.
Hasilnya, tengkorak ini diidentifikasi sebagai milik homonin. Kendati awalnya dikira tengkorak anak kecil, Rokus mendapati bahwa tengkorak itu adalah peninggalan manusia purba dewasa karena semua giginya permanen.
Dari situ, para tim riset menemukan sebagan besar sisa kerangka parsial manusia purba yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
Mike Morwood, salah satu bagian tim riset, mengundang Dr Brown dari University of New England, Australia agar memimpin deskripsi dan analisis sisa-sisa kerangka tersebut. Ahli anatomi kranial, rahang bawah, dan gigi manusia purba dan modern ini kelak melengkapi pengetahuan tentang Homo floresiensis dari zaman Pleistosen akhir yang lalu terbit di jurnal Nature pada 2004.***
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan