Keluarga Kristiani: Tanda Berkat Tuhan

Mari merenung Yesus – Maria – Yusuf:

Berkat Tuhan pun nyata dalam diri Yusuf dan Maria. Maria, perempuan sederhana dari Nazareth, mendapatkan Salam dari Allah, melalui Malaekat Gabriel. Salam itu berupa berkat Tuhan, “Salam, engkau yang terberkati. Tuhan menyertaimu…” (Lukas 1:28). Berkat Tuhan pun dialami oleh Yusuf, ketika kerapuhan manusiawinya diteguhkan malaekat surgawi dalam mimpi, “Yusuf, keturunan Daud, janganlah takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya itu berasal dari Roh Kudus…” (Matius 1:20).

Dan kehadiran Yesus, sebagai tanda berkat Allah yang sempurna bagi manusia, nyata pula dalam kata-kata Pujian Simeon, seorang yang benar dan saleh. Dia yang datang ke Bait Allah atas dorongan Roh Kudus:

“Sekarang, Tuhan, biarlah hambaMu ini pergi dalam damai, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telh ah melihat keselamatan yang datang dari Engkau, yang telah Engkau sediakan di hadap segala bangsa, yaitu cahaya yang menyatakan kehendakMu bagi bangsa-bangsa dan menjadi kemuliaan bagi umatMu Israel” (Lukas 2:29-32).

Keluarga, Komunio kristiani, persekutuan kita dalam Berkat Tuhan

Keluarga kita masing-masing adalah wadah kebersamaan di mana berkat Allah dinyatakan. Hal yang sama tentu berlaku dalam berbagai kebersamaan umat beriman. Kasih Allah memperjumpakan suami dan istri, dan anak-anak yang dihadirkan; Kasih Allah lah yang mempertautkan kita sekalian dari berbagai latar belakang dengan segala keunikannya untuk ‘masuk dalam keluarga besar Umat Allah dalam Kristus.’

Berkat Allah itu dinyatakan kepada keluarga dan persekutuan kita ketika diperdengarkan seruan penuh daya: TUHAN BERSAMAMU. Sebagaimana Tuhan hadir dalam “BerkatNya” di dalam diri Abraham, Maria, Yusuf, dan terutama dalam Anak TunggalNya-Yesus, berkat Tuhan itu juga hadir dalam diri kita sendiri, dalam keluarga kita masing-masing dan setiap persekutuan kita.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel