“Untuk itu, saya mengajak masyarakat untuk mulai beralih menggunakan bahan pangan lokal. Seperti olahan sorgum, ubi kayu, ubi jalar, sukun, jagung, sebagai bahan makanan pengganti nasi atau beras agar kita bisa mencapai ketahanan pangan,” pungkas Mica.
Tarsius Hurmali, Direktur Yayasan Ayo Indonesia pada kesempatan yang sama di hadapan para peserta yang hadir pada acara panen sorgum menegaskan bahwa sorgum pertama-tama tanami untuk konsumsi keluarga dulu, karena sorgum itu bergizi. Kalau produksinya banyak baru dijual supaya pendapatan petani meningkat.
Tanaman sorgum, jelas Tarsi merupakan tanaman yang mampu tumbuh dan hidup di atas lahan kritis atau lahan tidak subur. Maka setiap jengkal tanah kita mestinya ditumbuhi tanaman pangan kaya nutrisi yang namanya sorgum.
Sorgum yang dipanen hari ini, lanjut tarsi, merupakan buah dari kerjasama Yayasan Ayo Indonesia dengan Yayasan Kehati Jakarta. Kedua lembaga telah berkomitmen untuk menjadikan sorgum sebagai pangan alternatif dan mengoptimalkan pemanfaatan lahan, khususnya lahan tidur atau lahan kritis di Kabupaten Manggarai dengan membudidaya tanaman sorgum.

Sedangkan Rikardus Ampur, Camat Wae Ri’I mengingatkan para peserta bahwa tanaman sorgum adalah tanaman pangan warisan leluhur kita. Tanaman ini kaya akan nutrizi sehingga sangat baik untuk dikonsumsi pada skala rumah tangga guna mengurangi ketergantungan kita pada pangan beras. Selain itu, tambah Rikard, kalau mau sukses tanam sorgum untuk menjamin ketersediaan pangan maka kita harus bekerja keras mengacu pada filosofi orang manggarai olong lait pait itu po pecing ata mecikn mose (bersusah-susah terlebih baru merasakan nikmatnya hidup (sejahtera). Dan, dengan menanam sorgum tentu dapat membawa masyarakat manggarai lebih bermartabat dan mandiri terhadap akses pangan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







