Komunitas bangsa, Tanah Tumpah Darah, kini lagi riuh dengan ‘perang kata.’ Saling serang dalam sikap penghakiman dan tuduhan tercecer sana-sini. ‘Kerapuhan bangsa dan lubang menganga terhampar di sana-sini.’ Kita tak bergerak dari kepedulian bersama. Kita masih terganjal pada maen tuduh kepada yang lain. Dan yang dituduh pun bertarung ribut gemuruh dalam segala klarifikasi.
Komunitas bangsa, di hari-hari ini, jelang pilih pemimpin dan wakil rakyat, tak sepih dari kasak-kusuk ‘saling serang dan klarifikasi persoalan.’ Kita makin jauh dari spirit ‘gotong royong demi entaskan soal bersama (publik). Sebab, itu tadi, alam kerapuhan dan berbagai lubang menganga tidak dialami sebagai ‘gangguan atau petaka bersama.’
Di momentum penuh kompetisi ini, antar kelompok penuh gemuruh untuk saling serang. Takutnya, pesta rakyat yang semestinya ceriah penuh kekeluargaan, jadinya tegang penuh cemas. Komunitas yang seharusnya jadi tempat seluruh diri dan harapan bertumpuh dan bertumbuh, justru jadi teracak-acak. Tidak karena bertolak dari karunia ‘kerapuhan’ kolektif. Tetapi bahwa ada sebagian yang tetap dihakimi sejadinya, dan lainnya ‘merasa pahlawan, selalu rasa benar dan suci lahir-di dalam batin’ walau tanpa tindak dan solusi nyata.
Sungguh tak gampang berjalan bersama sebagai komunitas, pun sebagai bangsa. Kita masih tergurita belitan rasa. ‘Ada yang dicurigai berpesta pora dalam ketamakan dan penuh untung demi kepentingan. Dan haruskah yang lain mesti dipaksa ‘cuci piring kotor’ dari segala ‘pesta pora’ itu?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











