Dan lagi? Jangan-jangan ada maksud politis Jokowi agar Kaesang sepertinya dikarbitkan ke PSI dan bahkan begitu mudahnya didaulat jadi Ketua Umumnya. Jangan-jangan, misalnya saja, agar ‘partai kecil ini’ jangan jadi unsur kontra produktif yang rugikan PDIP. Setidaknya, orang seperti Ade Armando cs dapat ‘dihadang dan ditertibkan sebisanya.’
Dan kini, Gibran Rakabuming Raka. Si sulung Jokowi itu sudah direstui untuk merapat serius ke Prabowo. Ketukan palu Ketua Mahkamah Konstitusi, Anwar Usman, paman Gibran, sudah jadi terusan bebas hambatan menuju kekuasaan. Publik mencecar sinis.
Bila ditebak, lagi-lagi seadanya, apakah semuanya ini sungguh untuk halangi agar Prabowo (yang sunguh ambisius minta rakyat untuk ‘kita berkuasa’) agar tak sekian leluasa untuk aktifkan kembali kekuatan kelompok garis keras non Pancasila?
Masuknya Gibran (juga dalam artian Gibran kolektif), adalah gerak kuda troya yang bikin tak nyaman orang-orang seperti Fadli Zon dan orang-orang yang seaura dengannya untuk tak ‘nyaman bersuara.’ Apakah dengan itu Prabowo dijarak-lebarkan dari semua pihak yang berbau pro Khilafah?
Ganjalan politik?
Bagaimanapun, yang jadi soal krusial adalah terkangkangnya citra Mahkamah Konstitusi (MK) yang sepertinya muluskan Gibran. Dan bukan tak mungkin ini jadi ‘kenikmatan yang membawa benturan buat Jokowi serta Prabowo sekaligus. Ini juga bisa menjadi alasan untuk potensi keonaran di hari-hari mendatang. Dan bisa saja, inilah kesempatan emas Anis Baswedan dan timnya dapatkan efek durian runtuh politik yang entah bagaimana harus dimanfaatkan ala terpelesatnya lidah Ahok di Pilkada DKI 2017 itu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






