Mari kita berandai di pojok lain. Dengan semua ini, adakah Jokowi tak lagi berdharma demi Tanah Air? Tak bermimpi akan Indonesia yang mesti hidup damai, maju dan sejahtera? Mungkinkah Jokowi tak inginkan Indonesia yang selamanya pancasila-is? Sulit untuk mengatakan: Jokowi mulai jauh melebar dari segala niat luhur itu. Apalagi mengkhianatinya.
Demi Tanah Air
Di tatanan kata-kata (entah dalam hati juga demikian?), wacana tiga periode telah ditolak Jokowi. Itulah tanda kecintaannya demi alam Indonesia yang damai. Daripada, andai sebaliknya dipaksakan, itu bisa jadi celah alasan untuk bikin onar situasi dari kelompok-kelompok ‘penumpang dasar’ untuk hal-hal khaos seperti itu.
Sungguh tak terbantahkan bahwa secara fisik, betapa Jokowi telah berjasa demi pembangunan bangsa dan tanah air. Namun, yakinlah, Jokowi tentu sadar bahwa hanya berfokus pada pada pembangun fisik-infrastruktur tak pernahlah cukup. Indonesia yang belum tertata indah dalam ‘mental spiritual’ sebagai bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu: Indonesia, selalu ada dalam tantangan.
Di sisi seberang sana, telah menanti barisan sakit hati untuk menanti Jokowi ‘pulang sebagai rakyat kebanyakan.’ Tak boleh dilupa pula begitu saja akan kelompok-kelompok radikal ‘mudah menyalah’ dengan para mentornya, yang telah dengan tegas dibubarkan di era Jokowi.
Jokowi pasti tak kehendaki bahwa segala capaian selama ini harus diasapi oleh, misalnya, ideologi khilafah yang menggantikan dasar negara Pancasila.
Menebak-nebak Jokowi
Marilah tetap menebak-nebak, walau dianggap sebagai pengandaian picisan murahan dan teramat sederhana. Mungkinkah sekian nekatnya Surya Paloh-Nasdem di awal-awal kemarin itu untuk segera layangkan Anis Baswedan, agar di ‘mantan gubernur rasa presiden itu’ janganlah bergerak mudah untuk didekati dan mendekati ‘segala lingkaran dan arus garis keras non Pancasila’? Bukankah hal ini juga ‘untungkan’ Jokowi sebagai Presiden, agar Anis Baswedan bisa dikendalikan?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






