Cepat, Lugas dan Berimbang

Jalan Bersama Menuju Kesejahteraan

Oplus_131072

Untuk meyakinkan konsumen akan kualitas produknya, Boni memanfaatkan lahan di depan rumah seluas 3 x 10 meter dan lahan di belakang rumah berukuran 15 x 40 meter sebagai area uji coba. Berbagai jenis sayuran seperti kol, daun bawang, dan petsai tumbuh dengan baik tanpa menggunakan pupuk kimia. Lahan ini juga menjadi sarana edukasi bagi pembeli mengenai dosis pupuk yang tepat untuk berbagai jenis tanaman. Hasil panen sebagian dijual dan sebagian dikonsumsi oleh keluarga Boni.

Boni menargetkan produksi 200 karung pupuk organik pada Desember 2025 dengan harapan meraih omzet sebesar Rp10.000.000. Bahkan, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dari salah satu desa di Manggarai Timur telah memesan 60 karung pupuk untuk akhir Desember 2025.

Untuk mencapai target tersebut, Boni bekerja sama dengan sepuluh keluarga pemilik sapi, kambing, dan kerbau sebagai pemasok bahan baku. Sebagian dari mereka merupakan anggota Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Ranaka. Harga pembelian kotoran ternak yang telah kering dan siap diolah ditetapkan sebesar Rp25.000 per karung.

“Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya harus berjalan bersama mereka,” tutur Boni. “Dengan kerja sama ini, bahan baku terjamin dan ekonomi mereka pun ikut terbantu.”

Boni optimistis permintaan pupuk organik karbon akan terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap dampak perubahan iklim dan pentingnya menjaga lingkungan.

Ke depan, Boni berencana mengadakan mesin pengolah bahan baku pupuk serta merekrut lebih banyak tenaga kerja di bagian produksi. Ia juga bercita-cita membangun rumah produksi berkapasitas besar. Selain itu, Boni terus menjalin kerja sama dengan beberapa pemerintah desa di wilayah Manggarai dan Manggarai Timur untuk mempromosikan produknya, memperluas pasar, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaat pupuk organik.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN