Seiring waktu, Boni mulai membangun kebiasaan baru demi meningkatkan ekonomi keluarganya. Setiap minggu, setelah sarapan pagi, ia berangkat menuju tanah lapang di Kampung Robo, tempat warga biasa mengikat sapi dan kerbau. Dengan karung plastik putih berkapasitas 100 kilogram, Boni mengumpulkan kotoran ternak sebagai bahan baku pupuk organik. Meski pekerjaan ini menuntut tenaga ekstra dan mengharuskannya berpeluh di bawah terik matahari, Boni menjalaninya dengan penuh ketekunan demi mencukupi kebutuhan finansial keluarganya.
Dalam proses produksi, Boni melibatkan tiga orang anaknya, termasuk Bernadus Pedor yang berusia 14 tahun dan memiliki kebutuhan khusus, serta dua anak tetangga. Mereka bersama-sama membakar sekam padi menjadi arang, lalu mencampurnya dengan tanah, daun-daun hijau yang mengandung unsur hara, serta kotoran ternak kambing, babi, kerbau, dan sapi.
Komposisi bahan yang digunakan terdiri atas 60 persen kotoran ternak, 15 persen arang sekam, dan sisanya lapisan tanah atas serta daun-daun yang telah dicincang.
Menurut Boni, keterlibatan anak-anak dan remaja sangat penting untuk menjaga keberlanjutan usaha.
“Saya ingin anak-anak saya ikut terlibat agar mereka bisa belajar dan memiliki keterampilan yang berguna di masa depan,” ujar Boni.
Sebagai orang Manggarai, Boni memegang teguh nilai kebersamaan dalam setiap langkah usahanya. Ia percaya bahwa kesejahteraan tidak layak dinikmati sendiri. Karena itu, ia secara sadar berpihak kepada mereka yang masih lemah secara ekonomi, terutama keluarga-keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







