Setelah itu Paus membawa orang Kristiani pada Kisah penciptaan manusia (Kej 1 : 26). Ia menyodorkan perspektif Kristus sebagai saudara sulung manusia, Fratelli Tutti (2020). Dogma-dogma Gereja memang bersifat final, namun apa yang final itu bertemu dengan konteks yang terus berubah. Yesus yang berjumpa dengan orang-orang sakit, termarginal secara sosial, berdialog dengan tokoh-tokoh agama, mengkritisi kebijakakan pejabat sambil mendorong orang untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial menjadi model pastoral Paus Fransiskus. Paus menegaskan semua manusia adalah saudara.
Ke dalam pintu rumahnya sendiri yakni Gereja Katolik, Fransiskus mendorong Gereja lebih bersifat interdependensif, semangat sinodal dan komunitarian dari pada pola hirarkis. “Gereja harus menjadi bengkel penyembuh”, kata Paus Fransiskus. Bahkan Paus membawa Gereja kedalam perjumpaan orang samaria yang baik hati dengan melihat secara positif dan penuh cinta kepada orang lain di luar Gereja. Pola pastoral ini menantang bagi mereka yang telah membangun tembok pemisahan sosial dan diskriminatif mengatasnamakan doktrin.
Gereja harus menjadi ibu yang berbelaskasih, begitulah Paus menggambarkan Gereja-Nya. Dengan semangat Kristus mencintai manusia, ia pun membawa injil itu ke garis depan dan garis pembatas yang sering kali menjadi pemicu perendahan akan martabat manusia. Paus Fransiskus menyadari betul bahwa Allah telah menciptakan manusia secitra dengan-Nya dan Kristus memulih kembali manusia yang tercemar dosa, Dilexit Nos (2024).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





