Meskipun potret seperti itu, namun Kristus tak akan tidur. Ia akan menegakan perahu dari amukan gelombang dan angin sakal, serta mengulurkan tangan-Nya kepada Petrus.
Sembulan pesona wajah Gereja Kristus tampil melalui sosok Fransiskus sebagai anak imigran Italia di Argentina. Melalui pengalaman hidup beliau yang menyentuh dengan orang-orang termarjinal, membawa kembali pastoral Gereja ke jalan-jalan Galilea, persimpangan ke Kota Samaria dan ketepi kolam Bethesda. Nah untuk itu sangat menarik sekali kita melihat kembali karya misioner Paus Fransiskus sebagai bagian dari anamnesis untuk kepergian seorang gembala Gereja Universal.
Saya membaca pastoral Paus Fransiskus seperti melihat urutan kisah penciptaan dalam Kejadian Bab I. Paus Fransiskus memulai dengan perspektif iman yang lebih membumi yaitu Lumen Fidei (2013). Di bagian awal Dokumen ini, Paus Fransiskus mengutip Injil Yohanes bahwa Kristus sebagai Terang Dunia. Iman harus menjadi menjadi cahaya. Ini adalah Prolog dasar karya pastoral kepausan beliau. Persis sekali dalam Kejadian 1: 3 Allah menciptakan lebih dulu Terang pada hari pertama. Terang itu merupakan Karunia Kristiani. Di injil Matius 5 :14, dengan jelas menuding ke arah orang Kristiani, bahwa “Kamu adalah Terang Dunia”. Maka Paus memulai karya pastoralnya dengan kesadaran diri Gereja sebagai pencerah dunia di tengah konteks yang digambarkan di atas tadi.
Setelah itu tahun 2015, Paus Fransiskus membicarakan tentang alam ciptaan, persoalan lingkungan hidup melalui Ensiklik Laudato si (Bdk. Kej 1: 4-25). Filsuf Horkheimer menyatakan “ketika lingkungan hidup rusak, maka manusia juga ikut binasa karena manusia tidak terpisahkan dari bumi habitatnya”. Karunia Terang itu terhubung langsung dengan bumi, habitat manusia yang semakin rusak. Terang Kristiani menjadi budaya tanding bagi semangat pencerahan abad modern yang berfondasi pada rasionalitas dan teknologi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





