Langkah-langkah tersebut bukan untuk membatasi relasi manusiawi, melainkan untuk menjaga agar relasi tetap berada dalam koridor yang adil dan aman. Dalam relasi yang setara, kedekatan tidak menjadi masalah. Namun dalam relasi yang timpang, batas adalah perlindungan.
Kasus di Jambi ini seharusnya tidak berhenti sebagai konsumsi publik sesaat. Ia perlu dibaca sebagai sinyal bahwa ada celah yang belum tertutup dalam sistem kita. Selama celah itu dibiarkan, pola serupa akan terus berulang dengan aktor yang berbeda.
Dunia pendidikan memikul tanggung jawab yang lebih besar dari sekadar transfer pengetahuan. Ia adalah ruang pembentukan nilai dan karakter. Ketika ruang ini gagal menjaga batas, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi individu, tetapi juga legitimasi moral institusi.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi siapa yang salah, melainkan sejauh mana kita bersedia memperbaiki sistem yang ada. Karena tanpa perubahan pada level sistem, setiap kasus hanya akan menjadi pengulangan dari cerita yang sama.
★Dosen dan Praktisi di Fakultas Psikologi UST, Owner Harmonia Psychocare
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







