Jefrin Haryanto★
infopertama.com – Di sebuah kampung, seorang anak duduk memeluk lutut di dekat dapur kayu. Ibunya sedang menumbuk jagung, bapaknya entah ke mana. Anak itu diam. Tubuhnya kecil untuk usianya. Tapi bukan itu yang paling menyedihkan adalah: ia tidak tahu apa yang sedang ia kehilangan.
Hari ini, kata-kata seperti “algoritma”, “fyp”, “trending”, dan “engagement” lebih sering mengisi ruang digital kita, daripada kata “gizi”, “perkembangan otak”, atau “tumbuh kembang anak”. Kita hidup dalam era interaksi instan, tapi kehilangan koneksi nyata dengan akar persoalan kehidupan, salah satunya: stunting.
Stunting Bukan Sekadar Pendek
Menurut WHO, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Tapi lebih dari sekadar tubuh pendek, stunting adalah sebuah Catatan kegagalan kolektif dari sistem, budaya, hingga psikososial.
Teori Erik Erikson tentang psikososial menyebut bahwa masa awal kehidupan (0–5 tahun) adalah fase membangun trust atau kepercayaan dasar terhadap dunia.
Anak-anak stunting, sering kali bukan hanya kekurangan makanan, tetapi juga kekurangan stimulasi, rasa aman, dan perhatian emosional dari lingkungan.
Mereka kehilangan kepercayaan pada dunia sejak dini, karena tubuh mereka sendiri mengabarkan bahwa dunia ini belum cukup baik memberi mereka ruang tumbuh.
Bukan hanya tinggi badan yang tertinggal. Stunting menyerang harapan, menyerang harga diri, menyerang kemampuan anak untuk membayangkan bahwa hidup ini bisa indah.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







