Dunia Virtual yang Tidak Ramah Tumbuh Kembang
Di sisi lain, budaya digital yang kita konsumsi termasuk TikTok, reels, dan story, memberi stimulasi luar biasa besar pada remaja dan orang tua muda. Tapi stimulasi itu sering kali dangkal.
Hiburan menjadi pelarian, bukan penyadaran. Ibu-ibu muda lebih tahu cara membuat konten lucu anak daripada cara memenuhi kebutuhan gizi seimbang. Ayah-ayah lebih kenal kreator konten olahraga, daripada posyandu terdekat.
Bandura dalam Social Learning Theory, mengatakan bahwa anak-anak belajar melalui pengamatan dan peniruan. Tapi bagaimana jika yang mereka tonton setiap hari adalah kehidupan artifisial yang dikurasi untuk viralitas, bukan untuk nilai? Maka, kita sedang mencetak generasi yang tumbuh dengan pola pengasuhan dari layar, bukan dari pelukan.
Generasi Patah Pundak
Kita sering bicara tentang “bonus demografi” dan “generasi emas”. Tapi bagaimana jika anak-anak yang akan mengisi bonus itu, lahir dengan pundak yang sudah patah sebelum sempat memikul tanggung jawab bangsa?
Kita tak bisa berharap mereka menjadi pemimpin masa depan, jika di masa kecil saja mereka tak cukup makan, tak cukup kasih, tak cukup literasi.
Bayangkan, setiap anak stunting hari ini adalah satu potensi ilmuwan, pemimpin, seniman, atau guru yang tidak akan pernah benar-benar utuh karena kita terlambat peduli.
Dari Mana Harus Memulai?
Stunting bukan cuma soal gizi. Ini juga soal emosi yang terlupakan, perhatian yang tak sempat, dan pengasuhan yang dipinggirkan oleh kecepatan hidup digital.
Kita perlu kembali membangun kesadaran kolektif. Dari orang tua yang mau belajar, dari kader posyandu yang dimanusiakan, dari pemerintah yang tak hanya bagi-bagi susu, tapi juga membangun sistem yang menyentuh jiwa.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







