Pendapatan dari penjualan sayur dan tempe disalurkan untuk pembentukan aset UBSP. Sumber dana lain berasal dari iuran simpanan rutin anggota sebesar Rp20.000 per bulan.
Dengan demikian, akumulasi aset sebesar Rp2,6 juta per Oktober 2026 merupakan gabungan dari unit usaha dan tabungan anggota, bukan sekadar hasil penjualan dalam satu periode.
Ke depan, kelompok merencanakan pemanfaatan dana UBSP untuk membantu pembiayaan anggota melalui skema pinjaman berbunga rendah, yaitu sekitar 1–2 persen. Skema ini diharapkan dapat menopang kebutuhan finansial anggota sekaligus menjaga keberlanjutan usaha bersama.
Bagi KDD Popo, akumulasi aset ini menjadi sarana belajar mengelola sumber daya secara kolektif. Para anggota tidak hanya terlibat dalam proses produksi dan pemasaran, tetapi juga membiasakan diri menabung serta membangun mekanisme saling dukung secara ekonomi.
Penyandang Disabilitas sebagai Subjek Pembangunan
KDD Popo menjadi salah satu contoh pentingnya membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi dan sosial.
Melalui budidaya sayuran, pembuatan tempe, dan kerajinan tenun, anggota kelompok memiliki wadah untuk mengasah keterampilan sesuai potensi yang dimiliki. Kegiatan ini sekaligus membuka peluang bagi keluarga mereka untuk memperkuat sumber penghidupan dan menjaga ketahanan pangan harian.
Pendekatan ini menempatkan penyandang disabilitas bukan lagi sekadar penerima bantuan (objek), melainkan pelaku utama (subjek) yang ikut mengambil keputusan, bekerja, menghasilkan produk, dan membangun aset bersama.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











