“Pembangunan kebudayaan harus dimulai dari daerah. Karena itu, silaturahmi dan presentasi ini penting, sebab proposal tertulis saja tidak cukup. Kemajuan budaya daerah akan sangat menentukan arah kebudayaan nasional,” ujarnya.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, melalui sambutan yang dibacakan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Atal S. Depari, menyampaikan bahwa Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI bukan sekadar kegiatan seremoni.
“Anugerah ini merupakan pengakuan moral dan historis atas peran kebudayaan sebagai jiwa bangsa. Ini juga bentuk apresiasi kepada para insan budaya dan para pemimpin daerah yang konsisten menjaga identitas Indonesia di tengah arus perubahan zaman,” kata Atal.
Menurutnya, kekuatan utama Indonesia justru terletak pada kekayaan budaya yang dimiliki dan telah diakui dunia, termasuk oleh UNESCO.
“Dengan ribuan bahasa dan ragam tradisi, pembangunan yang berlandaskan kebudayaan adalah sebuah keharusan. Tanpa kebudayaan, pembangunan akan kehilangan arah, makna, dan identitas,” tambahnya.
Dalam pandangan tersebut, pers dinilai memiliki peran penting sebagai penjaga ingatan kolektif bangsa, ruang dialog kebudayaan, serta penghubung antara tradisi dan modernitas.
Pers yang sehat adalah pers yang memberi ruang bagi kebudayaan untuk tumbuh, dikenal, dan dihargai publik.
Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menilai wartawan memiliki kedekatan yang kuat dengan kebudayaan melalui tugas pencatatan sejarah, tradisi, dan dinamika sosial masyarakat.
“Wartawan mencatat sejarah dan budaya. Dari catatan itulah nilai-nilai budaya dapat terus hidup. Ke depan, para pemimpin daerah diharapkan mampu mencatatkan dirinya sebagai pelindung dan penyelamat budaya yang kini mulai tergerus,” ujarnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






