Dalam lantunan Doa Salam Maria, kita tetap mohon doa dengan perantaraan sang Bunda. “Doakanlah kami yang berdosa ini…” Itulah seruan setiap kita yang sungguh manusiawi, dalam satu pengakuan yang tulus. Adakah manusia yang tak terkepung dan bebas terhirup dari asap dosa dan kekurangan?
Kita bersama-sama mohon dalam kerinduan dan kerendahan hati: Ora pro nobis peccatoribus…. Doakanlah kami yang selalu letih dan tanpa daya untuk mudah tenggelam di dalam suram dan nista. Sebenarnya terasa berat memang untuk ucapkan “Doakanlah kami yang berdosa ini…” bagi yang merasa diri tetap dan selalu ‘suci lahir dan di dalam batin.’
Demikian pun seruan kepada sang Bunda untuk doakan setiap kita hingga pada ‘saat maut yang tak terelakan itu datang menjemput.’ Akhir hidup, iya kematian itu, adalah ‘kisah manusiawi’ kita yang tak terelakan. “Berdosa” dan “kematian” adalah ‘jalan pasti dan nasib setiap kita yang tak terhindarkan. Namun, tidak kah kita diteguhkan akan harapan keabadian, di kala dalam suara kita terucap: “Doakanlah kami yang berdosa ini; sekarang dan pada waktu kami mati….”?
Kita tentu merindukan kehadiran sang Bunda, yang menemani kita di setiap kisah-kisah hidup kita! Jika tapak hidup kita terasa berat dan nyaris tanpa asa, tidakkah episode mater dolorosa, bunda berdukacita, yang bertahan hingga kaki salib tetap menjadi ‘tuntunan tangan penuh kasih?’ Bahwa di kaki salib tetap tertangkap suara kasih, “Ibu, inilah anakmu!”……dan kepada sang anak, “Inilah ibumu” (Yoh 19:26-27).
Jalan Devosi vs Jalan Liturgi?
Di tahun kemarin, saya sempat ke Fatima-Portugal, dan lalu terus ke Lourdes-Prancis. Terkesan ‘mewah’ dan nampak ‘overdosis devosional.’ Bagaimanapun wisata rohani tak sekedar bahwa saya ‘pernah ke tempat ini atau ke tempat itu.’ Bukan itu intinya. Dalam keramaian bersama para peziarah laiannya, tetap ada alam hening sepih. Bunda Maria tentu tahu segala yang tersembunyi di sudut hati setiap peziarah. Walau tanpa banyak kata yang terucapkan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan