Bunda yang Kurindukan..

Namun sesungguhnya, selalu ada kesempatan bila kita berniat tulus dan lurus. Iya, bila ada kerinduan menuju keharibaan Sang Bunda. Kapan dan di mana saja. Hingga di bagian tersudut rumah kita, jika memang ada ‘ruang doa’ walau sesederhana apa adanya.

Saya sendiri tetap mengenang mama saya. Wanita sederhana, yang tergolong ‘anggota klasik’ kelompok mama-mama Santa Anna, Paroki Kathedral-Ende. Di suatu hari kubilang pada mama, “Mama, kalo pigi misa tu, tidak usah ka bawa rosario. Cukup Madah Bakti saja…” Dengan segera mamaku bilang, “Kau tahu apa? Ini yang bikin kau jadi imam,” sambil perlihatkan rosarionya yang tampak telah kusam.

Wah, terkadang segala teori dan konsep liturgi jebolan Roma, tidak pas di hati kebiasaan popular umat yang sudah ‘mendagingdarah.’ Entah apa yang harus dipertaruhkan?

Akhirnya

Bagaimanapun, saya tetap rindukan rosario kusam milik mamaku. Namun, sudah lama ia membawanya pergi di dalam peti matinya. Tetapi saya yakin di surgapun ia berdoa pada Bunda Surgawi, “Doakanlah kami yang berdosa ini.” Sungguh, di doa ibuku, namaku disebut….

Selamat berziarah bersama Bunda Maria. Di dalam kebersamaan kita sebagai anak-anaknya yang Yesus, Sang Putra Tunggal Allah sungguh kasihi.

Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro – Roma

Laman: 1 2 3 4

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses